FIVE ON A TREASURE ISLAND
by Enid Blyton
LIMA SEKAWAN
DI PULAU HARTA
alihbahasa: Agus Setiadi
Penerbit: PT Gramedia
Cetakan Kedua: November 1980

 

I
LIBURAN YANG TAK TERSANGKA 

“Bagaimana, Bu, sudah ada kabar tentang liburan kita?” tanya Julian pada suatu pagi.  “Bisakah kita pergi lagi ke Polseath, seperti biasanya?”

“Kurasa tidak bisa,” jawab Ibu. “Semua penginapan di sana penuh kali ini.”

Ketiga anak yang sedang sarapan itu saling berpandangan. Mereka kecewa, karena  sebenarnya kepingin sekali ke Polseath. Mereka menyukai rumah yang biasa mereka sewa  dalam liburan. Pantai di Polseath sangat indah. Enak mandi-mandi di sana.

“Jangan sedih dong,” kata Ayah membujuk. “Kita pasti masih akan berhasil menemukan  tempat berlibur yang sama baiknya. O ya, aku dan Ibu kali ini tidak bisa ikut dengan  kalian. Ibu sudah bercerita mengenainya?”

“Belum,” sahut Anne. “Betul itu, Bu? Ibu tidak bisa ikut berlibur dengan kami? Selama  ini Ibu selalu bisa.”

“Kali ini Ayah mengajak ke Skotlandia,” ujar Ibu. “Cuma kami berdua saja! Kalian kan  sudah cukup besar. Sudah bisa mengurus diri sendiri. Karenanya kami rasa pasti akan  senang, bila sekali-sekali pergi berlibur tidak dengan orang tua. Tapi sekarang  ternyata kalian tidak bisa pergi ke Polseath. Ibu sekarang agak bingung, tak tahu ke  mana kalian bisa pergi dalam liburan nanti.”

“Bagaimana kalau mereka ke Paman Quentin?” kata Ayah tiba-tiba. Paman Quentin itu adik  Ayah, jadi paman anak-anak. Mereka baru sekali berjumpa dengan Paman Quentin. Mereka

agak takut padanya. Orangnya jangkung, tak pernah tersenyum. Apalagi tertawa! Dia  seorang sarjana yang sangat pintar. Ia boleh dibilang terus-menerus sibuk dengan  ilmunya saja. Paman Quentin tinggal di tepi laut. Cuma itulah yang diketahui anak-anak  tentang paman mereka itu.

“Quentin?” tanya Ibu agak heran. “Kenapa tiba-tiba teringat padanya? Kurasa dia takkan  senang jika ada anak-anak yang ribut bermain-main dalam rumahnya.”

“Soalnya begini,” kata Ayah menerangkan duduk perkara. “Baru-baru ini aku bertemu  dengan isterinya di kota, karena ada urusan sedikit. Kurasa keuangan mereka saat ini  agak sempit. Kata Fanny, dia akan senang sekali jika ada orang menginap di rumah  mereka, supaya ada tambahan penghasilan.” Fanny adalah isteri Paman Quentin, jadi bibi  anak-anak.

“Kau kan tahu, mereka tinggal di tepi laut,” kata Ayah melanjutkan keterangannya.  “Mungkin cocok sekali untuk tempat berlibur bagi anak-anak. Fanny ramah sekali. Pasti  anak-anak takkan mengalami kekurangan apa pun juga.”

“Ya, betul juga,” sambut Ibu. “Dan mereka kan juga punya seorang anak. Siapa lagi  namanya — masakan sampai bisa lupa. Nanti dulu, agak aneh kedengarannya — ah ya, aku  ingat lagi sekarang. Georgina. Berapa umurnya sekarang, ya? Kurasa kurang lebih sebelas tahun.”

“Sama dengan aku,” kata Dick. “Bayangkan, kita punya saudara sepupu yang belum pernah  kita lihat. Tentunya dia sangat kesepian. Aku bisa bermain bersama-sama Julian dan  Anne. Tapi Georgina anak tunggal. Kurasa pasti dia akan gembira jika kita datang.”

“Ya, kata Bibi Fanny anaknya akan senang jika ada teman datang,” ujar Ayah. “Kurasa  kalau aku sekarang meneleponnya untuk mengurus kedatangan anak-anak ke sana,  persoalannya akan beres. Dengannya Fanny akan agak tertolong, sedang Georgina pasti  akan gembira karena ada teman-teman bermain selama liburan. Dan kita bisa tenang,  karena ketiga anak kita terurus baik.”

Anak-anak mulai merasa tertarik. Tentunya asyik, pergi ke suatu tempat yang belum  pernah didatangi, dan tinggal bersama seorang saudara sepupu yang belum mereka kenal.

“Di sana ada tebing yang tinggi? Ada batu-batu dan pasir?” tanya Anne bertubi-tubi.  “Tempatnya enak atau tidak?”

“Aku tak begitu ingat,” jawab Ayah. “Tapi aku merasa pasti, tempat itu mengasyikkan.  Pokoknya kalian akan senang di sana! Namanya Teluk Kirrin. Bibi Fanny dilahirkan di  sana, dan biar bagaimana takkan mau pergi dari sana.”

“Ayo dong, Yah — telepon Bibi Fanny, dan tanyakan apakah kami bisa ke sana!” seru Dick  tak sabar lagi. “Kurasa tempat itu cocok sekali bagi kami. Kedengarannya seperti banyak petualangan yang bisa dialami di sana!”

“Ah, kau ini kan selalu begitu! Ke mana saja kau pergi, selalu kaukatakan tempat itu  banyak petualangannya,” ujar Ayah sambil tertawa. “Baiklah! Kutelepon saja dia  sekarang. Kita lihat nanti, barangkali kalian beruntung.”

Anak-anak sudah selesai sarapan. Mereka menunggu Ayah yang akan menelepon. Ayah pergi  ke ruang tengah. Kedengaran kesibukannya menelepon.

“Mudah-mudahan saja berhasil,” harap Julian. “Aku kepingin tahu, seperti apa saudara  sepupu kita yang bernama Georgina itu. Namanya aneh, ya? Seperti nama anak laki-laki.  Kata Ibu tadi umurnya kira-kira sebelas tahun. Setahun lebih muda dari aku. Seumur  dengan kau, Dick, dan satu tahun lebih tua dari Anne. Mestinya dia cocok dengan kita.  Pasti akan asyik kita bermain bersama-sama.”

Sesudah menelepon selama kurang lebih sepuluh menit, Ayah kembali. Melihat mukanya,  dengan segera anak-anak tahu bagaimana hasil pembicaraannya. Ayah tersenyum lebar.

“Beres,” ujarnya. “Bibi Fanny gembira mendengarnya. Katanya untung sekali jika Georgina mendapat teman. Anak itu selalu seorang diri. Ke mana-mana tidak berteman. Bibi merasa  senang dititipi kalian. Hanya kalian harus hati-hati, jangan sampai Paman Quentin  terganggu. Dia sangat sibuk bekerja, dan cepat marah jika merasa terganggu.”

“Kami takkan ribut jika di dalam rumah,” kata Dick. “Sungguh, kami berjanji. Aduh,  asyik! Kapan kita pergi, Yah?”

“Minggu depan, jika Ibu bisa selesai saat itu,” kata Ayah. Ibu mengangguk.

“Bisa saja,” katanya. “Tak banyak yang harus dipersiapkan untuk mereka. Hanya pakaian  renang, baju kaos dan celana pendek. Cuma itu saja. Pakaian mereka sama semua.”

“Wah, enak! Kita bisa pakai celana pendek lagi,” seru Anne girang, sambil menandak nandak dalam kamar. “Aku bosan, terus-terusan memakai pakaian seragam sekolah. Aku  kepingin memakai celana pendek, atau baju renang. Aku kepingin berenang dan memanjat manjat dengan Dick dan Julian.”

“Sebentar lagi semuanya bisa kaulakukan,” kata Ibu tergelak melihat kelakuan putrinya  itu. “Tapi jangan lupa menyiapkan alat permainan dan buku-buku yang ingin kalian bawa.  Jangan banyak-banyak, karena tempatnya tidak banyak untuk itu.”

“Tahun lalu Anne ingin membawa serta kelima belas bonekanya sekaligus,” ujar Dick.  “Masih ingat, Anne? Menggelikan sekali kau waktu itu, ya?”

“Tidak,” jawab Anne dengan ketus. Mukanya merah. “Aku sayang pada semua bonekaku.  Karena bingung memilih, kuputuskan untuk membawa semuanya saja. Itu sama sekali tidak  menggelikan.”

“Kau juga ingat satu tahun sebelumnya lagi? Anne kepingin membawa kuda goyangnya,” kata Dick lagi sambil tertawa cekikikan. Kemudian Ibu mencampuri pembicaraan.

“Ya, dan Ibu ingat ada seorang anak laki-laki bernama Dick, yang pernah merengek-rengek ingin membawa serta dua boneka hitam, satu beruang-beruangan, tiga anjing-anjingan dan  satu boneka monyet ke Polseath.”

Sekarang giliran Dick merasa malu. Cepat-cepat ia berganti pembicaraan.

“Dengan apa kita ke sana, Yah?” tanyanya pada Ayah. “Naik mobil, atau dengan kereta  api?”

“Naik mobil,” jawab Ayah. “Barang-barang kita masukkan semuanya ke tempat bagasi.  Bagaimana kalau kita berangkat hari Selasa?”

“Kurasa baik sekali,” kata Ibu. “Dengan begitu kita bisa mengantarkan anak-anak, lalu  kembali untuk berkemas dengan tenang. Kemudian hari Jum’at kita berangkat ke  Skotlandia. Baiklah kita persiapkan saja keberangkatan hari Selasa.”

Jadi hari Selasa mereka akan berangkat. Anak-anak sudah tak sabar lagi menghitung hitung hari.

Setiap malam Anne mencoret tanggal yang sudah berlalu di penanggalan. Lama sekali  rasanya berlalu waktu satu minggu. Tapi akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga.  Dick dan Julian yang tidur sekamar, bangun serempak pada suatu pagi. Keduanya memandang ke luar jendela.

“Kelihatannya akan cerah hari ini. Horee!” seru Julian gembira sambil meloncat turun  dari tempat tidurnya. “Entah kenapa, tapi bagiku rasanya penting bahwa hari pertama  liburan harus cerah. Yuk, kita bangunkan Anne!”

Anne tidur di kamar sebelah. Julian masuk lalu menggoncang-goncang bahu adiknya.

“Ayo, bangun! Sekarang hari Selasa, dan matahari bersinar cerah!”

Mungkin kalian akan heran, kenapa Julian begitu meributkan soal matahari bersinar atau  tidak. Tetapi di Inggris, tidak setiap hari Sang Surya muncul untuk memanaskan bumi  dengan sinarnya. Di sana sering kali berkabut. Atau kalau tidak, hujan. Dan tidak enak  bukan, jika bermain-main di alam yang suram?

Anne terlompat bangun. Dipandangnya abangnya dengan wajah gembira.

“Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu selama ini!” serunya riang. “Aku sudah  kuatir, jangan-jangan hari Selasa takkan pernah tiba. Aduh, aku gembira sekali! Tak  sabar lagi rasanya, ingin sekarang juga berangkat.”

Mereka berangkat sehabis sarapan. Mobil mereka besar, cukup tempat bagi mereka semua.  Ibu di depan di samping Ayah, sedang anak-anak duduk di belakang. Kaki mereka  diletakkan di atas dua buah koper. Tempat bagasi di belakang penuh dengan segala macam  barang serta sebuah peti kecil. Menurut perasaan Ibu, tak mungkin masih ada yang  kelupaan.

Mereka melewati jalan-jalan kota London yang penuh dengan lalu lintas. Pelan sekali  mobil mereka berjalan. Tetapi ketika sudah di luar kota, mobil bergerak lebih laju. Tak lama kemudian sudah sampai di daerah luaran. Ayah melajukan jalan mobil. Anak-anak  bernyanyi-nyanyi. Mereka selalu bernyanyi, jika bergembira.

“Kita nanti berpiknik?” tanya Anne. Tiba-tiba ia merasa lapar.

“Yah,” kata Ibu. “Tapi kau masih harus sabar dulu. Sekarang kan baru pukul sebelas.  Setengah satu nanti kita makan siang, Anne.”

“Aduh,” keluh Anne. “Tak kuat aku menahan lapar sampai saat itu.”

Ibu memberikan beberapa batang coklat. Anne bersama kedua saudara laki-lakinya makan  coklat dengan nikmat, sambil mengarahkan perhatian ke pemandangan yang dilewati. Bukit, hutan dan tanah pertanian silih berganti.

Mereka berpiknik di puncak sebuah bukit, di tengah lapangan yang melandai ke arah  sebuah lembah. Lembah itu nampak cerah kena sinar matahari. Asyik juga mereka piknik di situ! Anne jengkel ketika ada seekor sapi besar berwarna coklat datang mendekat dan  memandangnya dengan matanya yang besar. Untung Ayah mengusirnya. Ketiga anak itu banyak sekali makannya. Kata Ibu, pukul setengah lima nanti mereka tidak bisa piknik lagi.  Semua roti sudah habis disikat oleh anak-anak, termasuk yang disediakan untuk hidangan  bersama teh nanti. Jadi mereka akan mampir saja ke sebuah restoran untuk minum teh. Di  Inggris, orang biasa makan roti pada saat minum teh sekitar pukul setengah lima sore.  Banyak restoran yang khusus menghidangkan teh serta kue-kue dan roti.

“Pukul berapa kita tiba nanti di rumah Bibi Fanny?” tanya Julian sambil mengunyah  potongan rotinya yang terakhir. Ia masih lapar. Rasanya masih sanggup menyikat tiga  potong lagi.

“Kalau tak ada gangguan, sekitar pukul enam,” jawab Ayah. “Nah, siapa mau jalan-jalan  sebentar? Untuk melemaskan kaki, karena nanti kita akan lama duduk terus di mobil.”

Sehabis jalan-jalan sebentar, mereka masuk lagi ke dalam mobil. Ayah menjalankan  kendaraan itu dengan laju. Akhirnya tiba juga saat minum teh. Anak-anak mulai gelisah.

“Pasti kita sudah dekat dengan laut,” ujar Dick. “Aku sudah bisa mencium baunya.”

Betul juga katanya. Mobil mereka meluncur ke atas sebuah bukit. Dan tiba-tiba di depan  mereka terbentang air yang sangat luas. Laut biru yang tenang berkilauan kena sinar  matahari sore. Ketiga anak itu bersorak serempak.

“Itu dia!”

“Aduh, bagusnya.”

“Aku kepingin berenang sekarang ini juga!”

“Tak sampai dua puluh menit lagi, kita akan sampai di Teluk Kirrin,” ujar Ayah  menyabarkan. “Ternyata perjalanan kita lancar. Sebentar lagi akan kelihatan teluknya.  Teluk Kirrin termasuk besar, dan ada sebuah pulau aneh di ambangnya.”

Sementara mobil mereka melaju di jalan yang menyusuri pantai, ketiga anak itu sibuk  mencari-cari teluk yang dikatakan oleh ayah mereka. Kemudian Julian berteriak gembira.

“Itu dia! Pasti itu Teluk Kirrin. Lihatlah, Dick — alangkah bagusnya. Airnya biru  sekali!”

“Dan lihatlah pulau karang yang kecil itu, di ujung teluk,” kata Dick. “Aku kepingin ke sana.”

“Itu sudah tak perlu kaukatakan lagi,” kata Ibu. “Sekarang kita harus mencari rumah  Bibi Fanny. Namanya Pondok Kirrin.”

Tak lama kemudian mereka sampai di Pondok Kirrin. Letaknya di atas sebuah bukit rendah  yang berada di tepi teluk. Nama Pondok Kirrin agak menyesatkan, karena bangunannya sama sekali tidak kecil. Besar dan tua, terbuat dari batu berwarna putih. Dinding depannya  dirambati tanaman mawar. Kebunnya kelihatan meriah, penuh dengan bunga-bungaan.

“Inilah dia, Pondok Kirrin,” ujar Ayah sambil menghentikan mobil. “Bangunannya sudah  tua, kabarnya sudah tiga ratus tahun! Mana Quentin? Nah — itu Fanny datang!”

 

 

II
SEPUPU YANG ANEH

Ternyata Bibi Fanny sudah menunggu-nunggu kedatangan mereka. Begitu melihat ada mobil  berhenti di depan, dengan segera ia berlari-lari ke luar. Begitu melihat Bibi Fanny,  dengan segera anak-anak menyukainya.

“Selamat datang di Kirrin!” serunya dari jauh. “Halo, apa kabar! Senang sekali rasanya, kalian datang ke mari. Wah, bukan main — anak-anak sudah besar semuanya.”

Sesudah bersalam-salaman, ketiga anak itu masuk ke dalam rumah. Mereka segera menyukai  rumah itu. Terasa ketuaannya. Seakan-akan menyimpan rahasia. Perabotan di dalamnya juga tua, dan indah.

“Mana Georgina?” tanya Anne sambil memandang berkeliling. Ia mencari-cari saudara  sepupunya itu, ingin berkenalan.

“Nakal benar anak itu! Tadi sudah kubilang, dia harus menunggu kedatangan kalian di  kebun,” kata Bibi Fanny. “Tahu-tahu, sekarang sudah menghilang lagi. Perlu  kuperingatkan pada kalian, bahwa mungkin kalian akan menganggap Georgina agak sulit

diajak berteman. Maklumlah, selama ini dia selalu sendirian saja. Dan mungkin saja  mula-mula dia tak begitu suka kalian ada di sini. Tapi jangan pedulikan! Nanti kan dia  akan biasa lagi. Aku merasa syukur bagi George, karena kalian bisa ke mari. Dia sangat  memerlukan teman bermain yang sebaya dengannya.”

“Bibi menamakannya George?” tanya Anne heran. “Saya kira namanya Georgina.”

“Memang betul,” jawab Bibi. “Tapi George tak suka jadi anak perempuan. Dia meminta agar kami memanggilnya dengan nama George, seperti anak laki-laki. Dia bandel sekali. Kalau  dipanggil Georgina, pasti tak mau menyahut.”

Menurut perasaan ketiga anak itu, Georgina seorang anak yang menarik perhatian. Mereka  sangat ingin bahwa dia datang. Tapi yang muncul bukan Georgina alias George, melainkan  Paman. Paman Quentin. Kelihatannya angker sekali. Jangkung, berambut hitam, dengan dahi lebar yang berkerut.

“Apa kabar, Quentin!” ucap Ayah. “Lama sekali Kita tak berjumpa. Mudah-mudahan saja  ketiga anak ini tak terlalu mengganggu kesibukanmu.”

“Quentin sedang sibuk dengan sebuah buku yang sulit,” kata Bibi Fanny. “Tapi untuknya  sudah kusediakan sebuah kamar yang terpisah. Kurasa dia takkan terganggu oleh anak anak.”

Paman Quentin menatap ketiga kemenakannya, lalu menganggukkan kepala. Tetapi mukanya  tetap cemberut. Anak-anak menjadi agak takut melihatnya. Syukurlah, dia bekerja di  tempat yang terpisah di rumah itu.

“Mana George?” tanya Paman dengan suara berat.

“Entahlah, tahu-tahu sudah menghilang,” jawab Bibi dengan kesal. “Padahal tadi sudah  kukatakan agar menunggu di sini, supaya bisa berkenalan dengan ketiga sepupunya.”

“Anak itu minta dipukul rupanya,” kata Paman. Anak-anak tak tahu pasti, apakah Paman  hanya bergurau saja atau tidak. “Nah, Anak-anak — mudah-mudahan kalian bisa bersenang senang di sini. Dan barangkali saja kalian bisa mempengaruhi George, supaya dia tidak  aneh lagi.”

Di Pondok Kirrin tidak ada tempat bagi Ayah dan Ibu. Karena itu sehabis makan malam  dengan terburu-buru, mereka pergi menginap di sebuah hotel di kota yang terdekat.  Besoknya sehabis sarapan, mereka akan segera berangkat lagi ke London. Jadi mereka  berpisah dari Julian, Anne dan Dick pada malam itu juga.

Georgina masih belum muncul juga.

“Sayang, kami tidak bisa berjumpa dengan Georgina,” kata Ibu. “Salam kami saja padanya. Mudah-mudahan dia senang bermain dengan ketiga anak ini.”

Sesudah itu Ayah dan Ibu berangkat. Anak-anak memperhatikan mobil besar mereka  menghilang di tikungan. Mereka merasa agak kesepian. Tetapi Bibi Fanny cepat-cepat  mengajak mereka ke tingkat atas, untuk menunjukkan tempat mereka tidur. Bibi sangat  ramah, sehingga tak lama kemudian ketiga anak itu sudah lupa akan kesedihan mereka.

Julian dan Dick disuruh Bibi tidur di sebuah kamar yang miring langit-langitnya, di  bawah atap rumah. Dari situ teluk bisa dilihat dengan jelas. Kedua anak laki-laki itu  senang sekali mendapat kamar yang demikian bagusnya. Sedang Anne disuruh tidur bersama  Georgina dalam sebuah kamar yang ukurannya agak kecilan. Dari jendela kamar itu nampak  tanah berpaya-paya yang terbentang luas di belakang rumah. Tapi sebuah jendela samping  menghadap ke arah laut. Kamar itu menyenangkan, dengan bunga-bunga mawar yang wangi  terangguk-angguk ditiup angin di depan jendela. Anne merasa senang diberi kamar itu.

“Kenapa Georgina tidak datang-datang juga,” ujar Anne pada Bibi. “Saya kepingin sekali  bertemu dengannya.”

“Anak itu agak aneh,” kata Bibi Fanny. “Kadang-kadang sikapnya seperti kasar dan  sombong. Tapi sebenarnya dia sangat baik budi, lagipula setia. George selalu berkata  sebenarnya. Jika sudah sekali bersahabat, tak mungkin diputuskan lagi olehnya.  Sayangnya dia sukar bisa berteman.”

Tiba-tiba Anne menguap lebar-lebar. Kedua saudaranya memandangnya dengan kening  berkerut. Mereka sudah bisa mengira, apa yang akan terjadi berikutnya. Dan benar juga  perkiraan mereka.

“Kasihan, tentunya kau sudah sangat capek, Anne! Ayo, masuk ke tempat tidur sekarang  juga. Kalian harus tidur nyenyak malam ini, supaya besok pagi bangun dalam keadaan  segar-bugar,” kata Bibi.

“Kau ini memang benar-benar goblok,” ujar Dick dengan kesal pada Anne, ketika Bibi  sudah ke luar. “Kau kan sudah tahu pikiran orang-orang dewasa, jika mereka melihat kita menguap. Padahal aku tadi kepingin jalan-jalan sebentar ke pantai.”

“Maaf deh,” kata Anne menyesal. “Entah kenapa, tak bisa kutahan lagi. Nah, nah —  sekarang kau sendiri juga menguap, Dick! Dan kau juga, Julian.”

Memang benar, ketiganya menguap silih berganti. Mereka sudah sangat mengantuk, capek  sehabis naik mobil begitu lama. Diam-diam, mereka sebenarnya sudah kepingin masuk ke  tempat tidur dan memejamkan mata.

“Aku kepingin tahu di mana Georgina saat ini,” kata Anne sewaktu mengucapkan selamat  tidur pada kedua abangnya. “Aneh benar dia itu, tidak mau menunggu untuk mengucapkan  selamat datang. Tidak ikut makan malam, dan sampai sekarang belum pulang. Padahal dia  akan sekamar dengan aku. Entah pukul berapa dia masuk nanti.” Anne masuk ke kamarnya.

Ketiga anak itu sudah lama terlelap, ketika akhirnya Georgina pergi tidur. Mereka tak  mendengarnya, ketika dengan pelan membuka pintu kamar di mana Anne sudah nyenyak.  Mereka juga tak tahu lagi, ketika anak itu berganti pakaian dan kemudian menggosok  gigi. Tak kedengaran oleh mereka derak tempat tidur, ketika Georgina merebahkan diri di atasnya. Ketiga anak itu sudah begitu capek, sehingga tak mendengar apa-apa lagi. Tahu tahu terjaga dibangunkan sinar matahari pagi.

Ketika Anne membuka matanya, mula-mula ia tak tahu di mana dia berada. Anak itu  berbaring di tempat tidur yang kecil, sambil menatap langit-langit kamar yang miring.  Diperhatikannya bunga-bunga mawar merah yang bergerak-gerak ditiup angin di depan  jendela. Tiba-tiba ia teringat kembali.

“Aku di Teluk Kirrin — dan sekarang saat berlibur!” katanya pada diri sendiri. Kakinya  ditendang-tendangkan ke udara oleh karena kegirangan.

Kemudian Anne memandang ke tempat tidur satu lagi, yang ada dalam kamar itu. Seorang  anak berbaring di situ, meringkuk di bawah selimut. Yang kelihatan cuma rambut yang  keriting. Lain tidak. Anne menunggu sampai anak yang sedang tidur itu kelihatan bangun.

“He — kau Georgina?” sapanya.

Anak yang berbaring itu dengan seketika duduk. Ditatapnya Anne dengan mata yang biru  cerah. Rambutnya keriting dipotong sangat pendek, hampir sependek anak laki-laki.  Mukanya coklat terbakar sinar matahari. Tarikan mulutnya agak cemberut, sedang  keningnya berkerut. Seperti Ayahnya, Paman Quentin.

“Bukan,” jawab anak itu ketus. “Aku bukan Georgina.”

“Loh!” Anne berseru heran. “Kalau begitu, kau ini siapa?”

“Namaku George,” kata anak itu. “Aku hanya mau menjawab, jika dipanggil dengan nama  George. Aku benci jadi anak perempuan. Aku tak mau! Aku tak senang berbuat seperti anak

perempuan. Lebih asyik kesibukan anak laki-laki. Aku lebih cekatan memanjat daripada  anak laki-laki. Dan berenang pun lebih cepat dari mereka! Aku tak kalah cekatan dengan  anak-anak nelayan di pesisir sini, kalau diadu berperahu layar. Kau harus memanggil aku George. Baru aku mau ngomong denganmu. Kalau tidak, aku tak mau.”

“Wah!” kata Anne. Menurut perasaannya saat itu, saudara sepupu yang baru dikenal ini  aneh sekali. “Baiklah! Aku tak ambil pusing, nama mana yang harus kusebut. Menurut  pendapatku, George itu nama yang bagus. Aku tak begitu senang pada nama Georgina.  Lagipula, kau kelihatan seperti anak laki-laki.”

“Betul?” kata George. Sesaat lenyap kerutan dari dahinya. “Ibu marah-marah ketika aku  pulang dari tukang cukur dengan rambut dipotong pendek. Dulu rambutku panjang, sampai  ke bahu. Jelek deh!”

Sesaat lamanya kedua anak perempuan itu saling berpandangan. Kemudian George bertanya, “Kau sendiri — tidak benci rasanya jadi anak perempuan?”

“Tentu saja tidak!” jawab Anne. “Soalnya, aku senang memakai gaun yang bagus. Aku suka  bermain dengan boneka. Dan sebagai anak laki-laki, aku tak bisa mengenakan gaun dan  bermain dengan boneka.”

“Uaah! Siapa mau peduli dengan gaun yang bagus,” ujar George mencemoohkan. “Apalagi  boneka! Kau ini anak kecil.”

Anne merasa tersinggung.

“Sikapmu tidak sopan,” katanya. “Kaulihat saja nanti. Abang-abangku takkan mau  mempedulikan, jika kau berlagak tahu segala-galanya. Mereka anak laki-laki sejati,  bukannya pura-pura seperti engkau.”

“Biar saja! Kalau mereka jahil, mereka takkan kupedulikan,” tukas George sambil  meloncat turun dari tempat tidurnya. “Kan bukan aku yang memanggil kalian. Aku tak mau  kalian datang, karena cuma merepotkan saja. Aku sudah senang hidup sendirian. Sekarang  aku harus bergaul dengan anak perempuan konyol yang senang pada gaun dan boneka, dan  dua sepupu laki-laki yang goblok-goblok!”

Anne merasa awal perkenalan itu tidak bisa disebut baik. Ia tak mengatakan apa-apa  lagi. Dengan segera dikenakannya celana jeannya yang kelabu, serta baju kaos merah.  George juga memakai jean, tapi baju kaosnya yang biasa dipakai anak laki-laki. Baru  saja mereka selesai berganti pakaian, pintu sudah digedor dari luar.

“Lama benar kau berpakaian!” seru Julian dan Dick dari luar. “Georgina ada di situ?  Georgina, keluarlah! Kami kepingin bertemu.”

George membuka pintu dengan kasar, lalu ke luar dengan hidung terangkat tinggi-tinggi.  Tak dipedulikannya kedua anak laki-laki yang tercengang-cengang memandangnya. Ia terus  berjalan dengan kepala terdongak, menuruni tangga menuju ke tingkat bawah. Ketiga anak  yang ditinggalkannya cuma bisa berpandang-pandangan saja.

“Dia tak mau menjawab, jika dipanggil dengan nama Georgina,” kata Anne menerangkan  duduk perkara. “Kurasa anak itu aneh sekali. Dia tadi bilang, dia tidak menginginkan  kita datang ke mari. Karena hanya akan merepotkannya saja. Aku ditertawakannya!  Sikapnya kasar.”

Julian merangkulkan lengannya ke bahu Anne, yang kelihatan agak muram.

“Sudahlah, tak perlu sedih,” bujuk Julian. “Kita kan masih ada, yang bisa membelamu.  Yuk, kita turun saja. Aku mau sarapan.”

Mereka bertiga lapar sekali. Bau telur dan daging goreng menambah selera makan.  Bergegas mereka menuruni tangga, lalu mengucapkan selamat pagi pada Bibi. Bibi Fanny

sedang sibuk menghidangkan sarapan. Paman duduk di ujung meja sambil membaca koran. Ia  menganggukkan kepala ke arah anak-anak. Mereka duduk dengan membisu, karena tidak tahu  boleh atau tidak ngomong pada saat makan. Di rumah mereka sendiri boleh saja, tetapi  Paman Quentin kelihatannya galak sekali.

George sudah duduk, sibuk mengoleskan mentega pada sepotong roti panggang. Ditatapnya  ketiga anak itu dengan cemberut.

“Janganlah semasam itu mukamu, George,” larang Bibi. “Kuharap kalian berempat sementara ini sudah saling berteman. Pasti akan menyenangkan, bisa bermain bersama-sama. George,  kauajak saudara-saudara sepupumu pagi ini ke pantai. Tunjukkan pada mereka tempat tempat yang terbaik untuk berenang.”

“Aku mau memancing,” jawab George singkat.

Seketika itu juga ayahnya mendongak dan memandangnya.

“Kau tidak boleh memancing,” katanya. “Sekali ini kau harus bersopan santun. Antarkan  saudara-saudara sepupumu ke pantai. Mengerti?”

“Ya,” kata George, dengan muka yang sama masam seperti ayahnya.

“Kalau George kepingin memancing, kami sendiri juga bisa pergi ke teluk,” ujar Anne  dengan segera. Menurut perasaannya, lebih baik tidak pergi bersama George apabila dia  sedang kesal.

“George harus melakukan apa yang disuruhkan padanya,” kata Paman. “Kalau tidak, dia  akan kumarahi.”

Jadi sehabis sarapan, keempat anak itu bersiap-siap akan pergi ke pantai. Mereka  melewati sebuah jalan yang mudah ditempuh, dan berlari-lari dengan gembira menuju ke  Teluk Kirrin. Sinar matahari menghangatkan tubuh. Bahkan George pun tidak lagi  merengut, ketika melihat ombak laut yang biru berkilau-kilauan.

“Kalau kau mau memancing, pergilah,” ujar Anne ketika mereka sampai di pantai. “Kami  takkan mengadukan pada Paman. Kami tak mau mengganggu kebebasanmu. Kami sendiri bisa  bermain bertiga. Kau tak perlu menemani, jika tidak mau.”

“Tapi kalau kau mau, kami akan senang sekali bermain dengan engkau,” ujar Julian  bermurah hati. Menurut pendapatnya George kasar dan tak tahu aturan. Tetapi walau  begitu dia merasa senang juga melihat anak perempuan berambut pendek yang kaku sikapnya itu, yang menatapnya dengan mata yang biru dan dengan mulut cemberut.

“Kulihat saja nanti,” kata George. “Aku tak mau berteman dengan anak-anak, hanya karena mereka kebetulan saudara-saudara sepupuku. Kuanggap berteman dengan jalan begitu,  konyol! Aku hanya mau berteman, jika anaknya kusenangi.”

“Kami juga begitu,” balas Julian. “Mungkin saja kami tak suka padamu.” George melongo sejenak, mendengar jawaban Julian itu.

“Ya — tentu saja,” katanya kemudian. “Mungkin saja kalian tak suka padaku. Pikir-pikir, banyak orang yang tak suka padaku.”

Anne menatap ke arah teluk yang biru airnya. Di ambangnya yang membuka ke laut nampak  sebuah pulau kecil. Pulau karang, dan di atasnya nampak sesuatu yang dari jauh  kelihatannya seperti sebuah puri kuno yang sudah runtuh.

“Aneh benar pulau itu,” katanya. “Apa namanya, ya?”

“Pulau Kirrin,” jawab George. Matanya yang memandang ke laut, sama birunya seperti air  di situ. “Tempatnya asyik untuk didatangi. Kalau aku senang pada kalian, mungkin pada

suatu hari kalian akan kuajak pergi ke sana. Tapi aku tak mau berjanji. Satu-satunya  jalan untuk bisa ke sana, naik perahu.”

“Kepunyaan siapa pulau aneh itu?” tanya Julian.

Jawaban George sama sekali tak disangka-sangka ketiga sepupunya.

“Pulau itu kepunyaanku,” katanya. “Maksudku, pada suatu hari nanti akan menjadi  milikku. Aku seorang diri yang akan menjadi pemiliknya. Aku akan mempunyai sebuah  puri.”

 

III
KISAH ANEH — DAN TEMAN BARU

Ketiga anak itu memandang George dengan tercengang. George membalas pandangan mereka.  Ia diam saja.

“Apa maksudmu?” kata Dick akhirnya. “Tak mungkin Pulau Kirrin itu kepunyaanmu. Kau cuma mau menyombong saja.”

“Aku tidak bohong,” jawab George. “Tanya saja pada ibuku. Kalau kau tak mau mempercayai kataku, aku tak mau bilang apa-apa lagi. Aku bukan pembohong. Menurut pendapatku orang  yang suka berkata tidak benar itu pengecut. Dan aku bukan seorang pengecut.”

Julian teringat kata Bibi Fanny. Kata Bibi, George selalu berkata sebenarnya. Julian  menggaruk-garuk kepala sambil memandang saudara sepupunya. Mana mungkin dia mengatakan  sebenarnya?

“Tentu saja kami mempercayaimu, jika kau tak berbohong,” katanya kemudian. “Cuma  kedengarannya sukar dipercayai, karena begitu luar biasa. Sungguh! Anak-anak tidak  biasa memiliki pulau sendiri. Biar pulau kecil yang aneh seperti itu.”

“Pulau Kirrin tidak aneh, dan juga tidak kecil,” kata George dengan galak. “Pulauku  indah. Di sana banyak kelinci. Semuanya jinak-jinak. Di sisi sebelah sana ada burung burung kormoran yang besar-besar, dan berbagai jenis burung camar. Purinya juga indah,  biar sudah menjadi puing.”

“Asyik kedengarannya,” ujar Dick. “Bagaimana pulau itu bisa jadi kepunyaanmu,  Georgina?”

George tidak menjawab, cuma melotot saja memandangnya.

“Wah, maaf,” kata Dick tergesa-gesa. “Aku keliru tadi. Maksudku hendak menyebut George  — eh, tahu-tahu yang keluar Georgina.”

“Ayohlah George — ceritakanlah bagaimana pulau itu bisa sampai jadi milikmu,” ujar  Julian sambil menggandeng saudara sepupunya yang sedang merajuk. Anak itu menyentakkan  lengannya.

“Jangan begitu,” katanya ketus. “Aku belum tahu, apakah aku mau berteman dengan kalian

atau tidak.”

“Terserah!” balas Julian. Ia sudah tidak sabar lagi. “Mau jadi musuh, atau jadi apa —  kami tak peduli. Tapi kami senang pada ibumu. Dan kami tak mau menyebabkan dia mengira  kami yang tak kepingin berteman.”

“Kau senang pada ibuku?” kata George. Sinar matanya yang biru menjadi agak lembut.  “Memang — ibuku baik, ya? Baiklah! Akan kuceritakan, bagaimana Puri Kirrin bisa jadi  milikku. Kita duduk saja di sudut sana, supaya tak terdengar orang lain.”

Keempat anak itu duduk di pasir, di kaki tebing yang agak menjorok masuk. George  memandang ke pulau kecil yang terdapat di ujung teluk.

“Soalnya begini,” katanya membuka cerita. “Dulu, hampir semua tanah di sekitar sini  milik keluarga ibuku. Kemudian mereka jatuh miskin, sehingga terpaksa menjual hampir  semua tanah yang dimiliki. Tapi pulau kecil itu tidak bisa dijual, karena tak ada  pembeli yang berminat. Dianggap tidak berharga. Apalagi purinya sudah lama runtuh.”

“Bayangkan, tak ada orang mau membeli pulau kecil sebagus itu!” seru Dick. “Kalau aku  punya uang, dengan segera akan kubeli.”

“Dari harta milik keluarga Ibu, yang tinggal hanyalah Pondok Kirrin tempat kediaman  kami, serta sebuah tempat pertanian yang letaknya tak seberapa jauh dari sini. Dan  Pulau Kirrin,” kata George. “Kata Ibu, pulau itu akan diwariskan padaku, jika aku sudah besar. Tapi katanya sekarang pun dia sudah tak menghendakinya. Karena itu  dihadiahkannya saja padaku. Aku yang memilikinya sekarang. Pulau itu milikku sendiri!  Tak kuperbolehkan siapa pun juga ke sana, kalau tidak kuijinkan.”

Ketiga anak itu memandangnya. Mereka mempercayai kata-kata George, karena jelas sekali  anak perempuan itu menceritakan kebenaran. Bayangkan, punya pulau milik sendiri! Mereka merasa George sangat beruntung.

“Wah, Georgina! Eh, maksudku George!” kata Dick. “Kau ini sungguh-sungguh bernasib  baik. Pulau itu bagus sekali kelihatannya. Mudah-mudahan saja kau mau berteman dengan  kami, lalu mau mengajak kami ke sana dalam waktu dekat. Kami kepingin sekali ke sana.”

“Yah — mungkin saja kalian akan kuajak ke sana,” kata George. Senang hatinya, karena  ketiga anak itu sangat tertarik mendengar ceritanya. “Kulihat saja nanti. Anak-anak  dari sekitar sini sudah sering meminta-minta, tapi belum pernah ada yang kuajak. Aku  tak senang pada mereka, jadi tak kuajak ke sana.”

Sesaat semuanya diam. Keempat anak itu memandang ke seberang teluk, ke arah pulau yang  nampak di kejauhan. Saat itu sedang pasang surut. Air laut dangkal sekali kelihatannya, seakan-akan bisa berjalan kaki sampai ke pulau. Dick menanyakan kemungkinan itu.

“Tidak,” jawab George. “Aku sudah bilang tadi, satu-satunya cara ke sana adalah dengan  perahu. Pulau itu cuma kelihatannya saja dekat. Teluk ini dalam sekali airnya. Dan di  mana-mana ada beting karang. Berperahu di sini, kalau tak hafal benar jalannya bisa  membentur karang. Pesisir daerah ini berbahaya. Sudah banyak sekali kapal yang karam.”

“Kapal karam!” seru Julian dengan mata bersinar-sinar. “Wah, hebat! Aku belum pernah  melihat bangkai kapal tua. Apakah ada yang bisa dilihat?”

“Sekarang tidak ada lagi, karena semua sudah disingkirkan,” jawab George. “Kecuali  sebuah, yang karam di sisi sana Pulau Kirrin. Perairan di situ sangat dalam. Kalau kita berdayung pada saat laut tenang dan memandang ke dalam air, bisa kelihatan patahan  tiangnya. Kapal karam itu juga kepunyaanku.”

Sekarang sudah sukar sekali bagi ketiga anak itu untuk masih bisa percaya. Tapi George  menganggukkan kepala dengan pasti.

“Ya, betul,” katanya tegas. “Kapal itu kepunyaan salah seorang kakek moyangku. Aku tak

tahu persis yang mana. Pokoknya sewaktu karam di depan Pulau Kirrin, kapalnya itu  sedang mengangkut emas.”

“Wah! Lalu, apa yang terjadi dengan emasnya?” tanya Anne tercengang. Matanya membesar,  nyaris sebulat jengkol.

“Tak ada yang tahu,” kata George. “Kurasa sudah dicuri orang. Tentu saja ada beberapa  orang yang menyelam untuk memeriksa di situ. Tapi emas tak berhasil mereka temukan.”

“Aduh, kedengarannya asyik sekali,” ucap Julian. “Kepingin sekali rasanya bisa melihat  bangkai kapal itu.”

“Yah — mungkin kita bisa ke sana sore ini, jika air surut sedang serendah-rendahnya,”  kata George. “Laut kelihatannya sangat tenang dan jernih hari ini, jadi kita akan bisa  melihatnya sedikit.”

“Asyik, asyiik,” seru Anne. “Aku kepingin sekali melihat bangkai kapal hidup-hidup!” Anak-anak tertawa mendengarnya.

“Mana ada bangkai hidup, Anne,” kata Dick. “He George, bagaimana kalau kita berenang  sekarang?”

“Aku harus menjemput Tim dulu,” kata George sambil berdiri.

“Tim itu siapa?” tanya Dick.

“Kau bisa menyimpan rahasia?” tanya George. “Orang di rumah tak boleh tahu.”

“Ayoh ceritalah — apa rahasianya?” tanya Julian. “Kau bisa mempercayakannya pada kami.  Kami ini bukan pengadu.”

“Tim itu temanku yang paling baik,” ujar George. “Aku merasa kesepian, kalau dia tak  ada. Tapi Ayah dan Ibu tak suka padanya. Karena itu aku berteman dengannya secara  sembunyi-sembunyi. Aku pergi sebentar menjemputnya.”

Lari mendaki jalan yang menuju ke atas tebing bukit. Ketiga saudara sepupunya  memperhatikan dari tempat mereka duduk. Menurut perasaan mereka, George anak perempuan  teraneh yang pernah mereka kenal.

“Siapa lagi anak yang bernama Tim itu?” tanya Julian dengan heran. “Kurasa pasti  seorang anak nelayan, yang tidak disukai orang tua George.”

Mereka merebahkan tubuh ke pasir yang halus. Mereka menunggu. Tak lama kemudian  terdengar suara George berseru-seru di atas bukit.

“Ayoh, Tim! Ayo, ikut.”

Ketiga-tiga anak itu cepat-cepat duduk, lalu menoleh ke belakang untuk melihat anak  yang bernama Tim. Mereka tak melihat anak nelayan, tetapi seekor anjing keturunan  campuran. Anjing itu besar, berbulu coklat dan berbuntut panjang sekali. Moncongnya  lebar. Kelihatannya seperti sedang nyengir! Anjing itu meloncat-loncat mengelilingi  George, sambil menyalak dengan gembira. Anak perempuan itu berlari-lari menuruni lereng bukit.

“Dia ini Tim,” katanya sesampai di bawah. “Bagus sekali, ya?”

Dinilai sebagai anjing, Tim jauh dari bagus. Bentuknya aneh sekali. Kepalanya terlalu  besar, kupingnya terlalu lancip, buntutnya terlalu panjang. Tak ada yang bisa  mengatakan, Tim itu sebenarnya anjing jenis apa. Tapi dia kocak sekali, dan sangat  ramah. Begitu bertemu dengan segera Julian beserta kedua adiknya merasa sayang pada  Tim.

“Manis benar kau ini!” seru Anne.

“Dia memang bagus,” ujar Dick sambil menepuk-nepuk kepala anjing itu. Tim gembira, lalu meloncat-loncat mengelilingi mereka.

“Aku kepingin punya anjing seperti ini,” kata Julian. Dia memang suka pada anjing, dan  sudah selalu ingin memelihara seekor. “Wah George, Tim memang hebat. Tentu kau bangga  memilikinya.”

Anak perempuan itu tersenyum. Seketika itu juga air mukanya berubah menjadi manis dan  cerah. Ia mendudukkan diri ke pasir, sementara Tim merapatkan diri ke kakinya.

“Aku sayang sekali padanya,” kata George. “Aku menemukannya setahun yang lalu di rawa  belakang rumah, ketika dia masih kecil sekali. Mula-mula Ibu suka padanya. Tapi Tim  menjadi nakal sekali ketika sudah agak besar.”

“Apa yang diperbuatnya?” tanya Anne.

“Dia senang sekali menggigit-gigit,” ujar George. “Semua mesti digigiti olehnya.  Permadani yang baru dibeli oleh Ibu, topinya yang paling disenangi, sandal Ayah,  kertas-kertas kerjanya. Pokoknya barang-barang seperti itu tak pernah aman dari  gigitannya. Dan Tim sering menyalak. Aku suka mendengarnya, tapi Ayah tidak. Katanya,  dia nyaris gila sebagai akibatnya. Tim dipukulnya. Aku marah karenanya, lalu berani  membantahnya.”

“Kemudian kau dipukulnya?” tanya Anne. “Aku tak berani berbuat kurang ajar terhadap  ayahmu. Kelihatannya dia galak sekali.”

George memandang ke tengah teluk. Mukanya sudah cemberut kembali.

“Aku tak peduli terhadap hukuman yang kuterima,” katanya. “Tapi aku sedih sekali ketika Ayah mengatakan bahwa aku tak boleh lagi memelihara Tim. Ibu sependapat dengan Ayah.  Katanya Tim harus pergi. Berhari-hari aku menangis. Padahal aku biasanya tak pernah  menangis. Anak laki-laki tak pernah menangis, dan aku kepingin seperti anak laki-laki.”

“Ah, anak laki-laki pernah juga menangis,” kata Anne sambil memandang Dick. Tiga atau  empat tahun yang lalu, abangnya itu cengeng. Sedikit-sedikit menangis. Dick menyikutnya dengan keras, sehingga Anne terdiam.

George memandang Anne.

“Anak laki-laki tidak menangis,” katanya berkeras. “Pokoknya, aku belum pernah melihat  anak laki-laki sedang menangis. Aku juga selalu berusaha agar jangan menangis. Seperti  anak kecil! Tapi waktu Tim harus pergi, aku tak bisa menahan tangis. Tim juga ikut  menangis.”

Ketiga saudara sepupunya memandang Tim dengan kagum. Mereka belum pernah mendengar ada  anjing yang bisa menangis.

“Maksudmu benar-benar menangis — sampai keluar air mata?” tanya Anne.

“Tidak sampai begitu,” jawab George. “Tim tidak sebegitu cengeng. Dia menangis  melolong-lolong. Kelihatannya memelas sekali. Remuk rasa hatiku melihatnya. Saat itu  kusadari, bahwa aku tak mungkin bisa berpisah dengannya.”

“Apa yang terjadi sesudah itu?” tanya Julian.

“Aku mendatangi Alf. Dia itu kenalanku, seorang anak nelayan,” kata George. “Aku minta  tolong padanya untuk memeliharakan Tim. Untuk itu aku bersedia memberikan semua uang  saku yang kuterima. Alf mau, dan dia menepati janji. Karena itulah aku tak pernah punya uang untuk jajan. Semuanya habis untuk Tim. Dia kelihatannya banyak sekali makannya.

Betul, Tim?”

Tim menggonggong sambil berguling-guling di pasir. Julian menggelitiknya.

“Bagaimana caranya jika kau kepingin membeli manis-manisan atau eskrim?” tanya Anne.  Kalau dia, hampir seluruh uang sakunya habis untuk jajanan.

“Aku tidak jajan,” kata George.

Kedengarannya berat sekali bagi ketiga saudara sepupunya, yang semua senang sekali  makan eskrim, coklat dan manis-manisan. Karena itu mereka memandang George dengan heran bercampur kasihan.

“Tapi mestinya anak-anak yang bermain-main di pantai, sekali-sekali memberi manis manisan dan eskrim mereka padamu,” kata Julian.

“Aku tak pernah mau,” jawab George tegas. “Rasanya tidak adil, karena aku takkan pernah bisa memberi apa-apa pada mereka. Karenanya aku selalu menolak, jika ditawari.”

Saat itu dari kejauhan terdengar denting lonceng tukang es. Julian merogoh kantongnya,  lalu melompat bangkit dan lari sambil mendencing-dencingkan uangnya. Beberapa detik  kemudian ia sudah kembali dengan membawa empat batang eskrim. Satu diberikannya pada  Dick, satu untuk Anne. Kemudian disodorkannya sebatang pada George. Anak perempuan itu  memandang eskrim yang di depan hidungnya. Kelihatannya kepingin sekali. Tapi ia  menggelengkan kepala.

“Tidak, terima kasih,” katanya. “Aku sudah bilang tadi — aku tak punya uang untuk  membeli, dan karenanya aku juga tak bisa membagi esku dengan kalian. Oleh sebab itu aku tak bisa menerima pemberianmu. Tak pantas menerima pemberian orang, jika tidak bisa  membalas biar sedikit.”

“Dari kami boleh saja,” kata Julian sambil mencoba meletakkan eskrim itu ke tangan  George. “Kami kan sepupumu.”

“Tidak, terima kasih,” kata George lagi. “Tapi kau baik budi.” Ia menatap Julian dengan matanya yang biru cerah. Dahi Julian berkerut. Ia sedang mencari akal, supaya anak  gadis yang keras kepala itu mau menerima eskrim yang disodorkannya. Akhirnya Julian  tersenyum.

“Begini sajalah,” katanya. “Kau memiliki sesuatu yang sangat kami ingini. Kau bahkan  banyak memiliki barang-barang yang kami ingini, apabila Kauperbolehkan. Kau membaginya  dengan kami, dan terimalah barang-barang pemberian kami. Misalnya saja eskrim ini.  Setuju?”

“Barang-barang apa saja kepunyaanku yang kalian ingini?” tanya George heran.

“Kau punya seekor anjing,” kata Julian sambil menepuk-nepuk Tim. “Kami ingin bermain main dengannya. Lalu kau memiliki sebuah pulau yang indah. Kami akan bergembira sekali, jika sekali-sekali diajak ke sana. Kau juga mempunyai bangkai kapal tua. Kami kepingin  melihatnya. Eskrim dan manis-manisan kalah hebat dengan barang-barang kepunyaanmu. Tapi kan asyik jika kita saling berbagi.”

George memandang mata coklat yang menatapnya dengan tenang. Mau tak mau, dia merasa  senang pada Julian. George tak biasa membagi-bagi barang milik. Selama itu dia selalu  anak tunggal, yang kesepian. Seorang anak kecil yang keras kepala dan pemarah, serta  salah dimengerti. Selama itu dia belum pernah punya teman. Tim memandang Julian.  Dilihatnya anak itu menawarkan sesuatu yang enak, seperti coklat, pada George. Anjing  itu melonjak-lonjak dengan gembira.

“Lihat — Tim ingin bermain,” kata Julian sambil tertawa. “Baginya akan lebih asyik,  kita mempunyai tiga teman baru.”

“Betul juga,” jawab George. Diterimanya eskrim yang disodorkan. “Terima kasih, Julian.  Tim jadi milik kita bersama. Tapi kalian harus berjanji, jangan bercerita di rumah  bahwa Tim masih kupelihara.”

“Tentu saja kami berjanji,” ujar Julian. “Walau tak bisa kubayangkan bahwa Ayah atau  Ibumu akan berkeberatan. Asal saja Tim tidak tinggal di rumah mereka. Bagaimana esnya — enak?”

“Hmmm, belum pernah aku merasakan yang seenak ini,” kata George sambil menggigit-gigit  eskrimnya. “Rasanya dingin sekali! Tahun ini aku belum pernah makan eskrim. Wah,  SEDAAAP!”

Tim meminta bagian, dan diberi sedikit oleh George. Kemudian anak itu berpaling dan  tersenyum pada ketiga saudara sepupunya.

“Kalian anak-anak yang baik,” katanya. “Aku sekarang toh merasa senang, karena kalian  datang ke mari. Bagaimana, sore ini kita berperahu ke pulauku untuk melihat kapal yang  karam di sana?”

“O ya!” seru ketiga sepupunya serempak. Bahkan Tim ikut-ikut mengibaskan ekor. Seakan akan dia mengerti, kenapa anak-anak bergembira.

 

IV
SUATU SORE YANG MENGASYIKKAN

Sepagian mereka asyik mandi-mandi di laut. Julian dan Dick terpaksa mengakui bahwa  George lebih pandai berenang daripada mereka. Geraknya tangkas dan cepat sekali. Ia  bahkan pandai berenang di bawah air. Tahan sekali ia menyelam.

“Pandai sekali kau berenang,” ujar Julian kagum. “Sayang Anne tak begitu bisa. Anne,  kau harus sungguh-sungguh berlatih! Kalau tidak, kau takkan pernah bisa ikut berenang  bersama kami sampai jauh ke tengah.”

Menjelang saat makan siang, perut mereka terasa lapar sekali. Cepat-cepat mereka  mendaki jalan ke atas bukit. Mudah-mudahan saja di rumah banyak makanan. Dan harapan  mereka itu terkabul! Bibi Fanny sudah menduga bahwa mereka pasti akan sangat lapar.  Karenanya disediakan makanan banyak-banyak. Masakan daging dingin dengan selada, kue  buah prem, kemudian puding telur dan akhirnya keju. Anak-anak makan dengan lahap.

“Apa rencana kalian siang ini?” tanya Bibi.

“George mengajak kami berperahu di teluk. Kami hendak dibawanya melihat bangkai kapal  karam di sisi pulau sebelah sana,” kata Anne. Bibi heran mendengarnya.

“George mengajak kalian?” ucapnya tercengang. “Wah, George — mimpi apa kau tadi malam?  Selama ini kau tak pernah mau mengajak siapa-siapa ke sana, walau sudah cukup sering  kusuruh.”

George diam saja. Ia terus makan puding. Selama waktu makan, tak sepatah kata pun  keluar dari mulutnya. Anak-anak merasa lega, karena Paman Quentin tidak makan bersama

mereka.

“Aku merasa senang bahwa kau mau berusaha mematuhi kata Ayah,” kata Bibi lagi. Tetapi  George cuma geleng kepala.

“Aku melakukannya bukan karena disuruh,” ujarnya. “Aku melakukannya, karena aku mau  sendiri. Kalau aku tak senang orangnya, biar siapa pun takkan kuajak melihat kapal  karamku. Biar Ratu Inggris, aku tetap tak mau!”

Ibunya tertawa.

“Syukurlah bahwa kau senang pada saudara-saudara sepupumu,” katanya. “Mudah-mudahan  saja mereka senang juga padamu!”

“O ya!” seru Anne dengan segera. Maksudnya hendak membela saudara sepupunya yang aneh  itu. “Kami senang sekali pada George, dan kami juga senang pada Ti….”

Nyaris saja Anne mengatakan bahwa ia beserta kedua abangnya juga senang pada Tim.  Tetapi sebelum nama itu disebut, Anne sudah terjerit kesakitan karena mata kakinya kena tendang. Sampai terbersit air matanya. George memandangnya dengan mata melotot.

“George! Mengapa Anne kautendang? Padahal dia kan mengatakan senang padamu,” kata Bibi  dengan marah. “Ayoh, tinggalkan meja saat ini juga. Aku tak suka melihat kelakuanmu.”

George berdiri, lalu pergi ke kebun dengan tidak mengatakan apa-apa. Sepotong roti  beserta keju yang baru saja diambil, ditinggalkannya begitu saja di atas piring. Ketiga saudara sepupunya menatap makanan yang ditinggalkannya itu dengan kebingungan. Anne  menyesal sekali. Dia merasa tolol sekali. Bagaimana sampai bisa lupa bahwa ia tak boleh menyebut-nyebut nama Tim di depan orang tua George!

“Bibi, ijinkanlah George masuk kembali,” pintanya pada Bibi Fanny. “Dia tadi tak  sengaja menendang kaki saya.”

Tetapi Bibi masih tetap marah.

“Ayoh, cepat habiskan makan kalian,” katanya pada ketiga anak itu. “Kurasa George  sekarang merajuk. Susah sekali adat anak itu!”

Julian dan kedua adiknya sebetulnya tidak begitu peduli apabila George merajuk. Mereka  hanya kuatir, jangan-jangan George sekarang tidak mau lagi membawa mereka melihat  bangkai kapal karam.

Mereka menyelesaikan makan sambil membisu. Bibi pergi mendatangi Paman, untuk  menanyakan apakah dia mau kue lagi. Paman makan siang di kamar kerjanya. Begitu Bibi  keluar dari kamar makan, dengan cepat Anne menyambar roti keju dari piring George dan  membawanya ke kebun.

Kedua abangnya diam saja. Mereka tidak marah padanya. Mereka tahu bahwa Anne sering  terlanjur ngomong. Tetapi dia selalu berusaha memperbaiki kekeliruannya sesudah itu.  Mereka merasa Anne berani, karena mau mencari George yang sedang merajuk.

George berbaring menengadah di bawah sebuah pohon yang besar dalam kebun. Anne datang  menghampiri.

“Maafkan aku tadi, George,” katanya menyesal. “Nyaris rahasiamu terbongkar. Ini roti  kejumu, kubawakan untukmu. Aku berjanji takkan lupa lagi, bahwa nama Tim tak boleh  disebut-sebut.”

George bangkit dari baringnya, lalu duduk.

“Bagusnya kau ini tak kuajak untuk melihat bangkai kapal karam,” katanya ketus. “Anak  totol!”

Hati Anne berdebar-debar. Inilah yang dikuatirkannya sedari tadi.

“Baiklah, kau bisa saja tidak mengajakku,” katanya. “Tapi kedua abangku kan boleh.  Karena mereka tadi tidak melakukan sesuatu hal yang tolol, seperti aku. Lagipula aku  tadi sudah kautendang keras-keras. Lihat saja sendiri! Biru mata kakiku sebagai  akibatnya.”

George mengamat-amati mata kaki, lalu memandang Anne.

“Kau tidak sedih, bila aku hanya mengajak Julian dan Dick saja?” tanyanya.

“Tentu saja aku sedih,” kata Anne. “Tapi aku tak mau menyebabkan mereka tak jadi ikut,  walau aku sendiri tidak diajak.”

Tiba-tiba George melakukan sesuatu yang tak tersangka-sangka. Anne dipeluknya! Sesudah  itu ia kelihatan sangat malu, karena menurut perasaannya anak laki-laki takkan berbuat  seperti itu. Sedang dia selalu berusaha untuk bertindak-tanduk seperti anak laki-laki.

“Sudahlah,” katanya dengan ketus sambil mengambil roti keju yang disodorkan oleh Anne.  “Kau nyaris saja berbuat tolol, lalu kau kutendang. Jadi sudah impas. Tentu saja sore  ini kau boleh ikut.”

Anne bergegas masuk ke rumah, untuk bercerita pada kedua abangnya bahwa semua sudah  beres kembali. Lima belas menit kemudian keempat anak itu berlari-lari menuruni bukit  menuju ke pantai. Di dekat sebuah perahu berdiri seorang anak nelayan. Kulitnya coklat, terbakar sinar matahari. Umurnya kira-kira empat belas tahun. Ia ditemani oleh Tim.

“Perahunya sudah siap, Master George,” ujarnya sambil nyengir. Anak itu menyapa George  dengan kata ‘Master’, yang artinya ‘sinyo’ atau ‘tuan muda’. Anak itu tahu, George  senang jika diperlakukan sebagai anak laki-laki. “Tim juga sudah siap untuk ikut.”

“Terima kasih,” jawab George lalu menyuruh ketiga sepupunya masuk ke perahu. Tim juga  ikut meloncat masuk. Buntutnya dikibas-kibaskan kian ke mari dengan sibuk. George  mendorong perahu masuk ke air, lalu meloncat masuk.

George sangat cekatan mendayung, dan perahu itu meluncur di atas air teluk yang biru.  Sore itu sangat indah, dan anak-anak gembira menikmati gerak perahu di atas air. Tim  berdiri tegak di haluan. Setiap ombak yang datang disongsongnya dengan gonggongan.

“Anjingku kocak dan ribut,” kata George sambil mendayung sekuat tenaga. “Senangnya  menggonggong kalau ada ombak besar datang. Kalau sampai basah tersiram ombak, dia marah sekali. Tim sangat pandai berenang.”

“Senang rasanya membawa anjing bersama kita,” ujar Anne. Dia berusaha menarik hati  George, agar anak itu melupakan kesalahannya tadi. “Aku suka padanya.”

Tim menoleh ke arah Anne, lalu menyalak sambil mengibas-kibaskan ekor. “Kurasa dia mengerti apa kataku tadi,” ujar Anne dengan gembira.

“Tentu saja,” sambut George. “Tim mengerti setiap kata orang.”

“He — kita sudah hampir sampai ke pulaumu,” ujar Julian penuh gairah. “Ternyata lebih  besar dari sangkaanku semula. Dan purinya — mengasyikkan sekali kelihatannya!”

Perahu mendekat ke pulau. Ketiga anak kota itu melihat bahwa dalam air di sekelilingnya banyak sekali bertaburan batu-batu yang runcing. Kalau tak tahu jalannya yang benar,  takkan ada perahu atau kapal yang bisa merapat ke pulau cadas yang kecil itu. Di tengah pulau, di atas sebuah bukit rendah terdapat puri yang disebut oleh Julian. Puri itu  tinggal reruntuhannya saja lagi. Puri itu dulunya dibangun dari bongkah-bongkah batu  putih yang besar-besar. Tetapi yang tinggal dari bangunan yang pernah megah dan kokoh,

hanya gerbang-gerbang lengkung yang sudah runtuh, menara-menara yang sudah mau rubuh  dan tembok-tembok ambruk. Sekarang puing puri itu ditinggali oleh burung-burung yang  sejenis dengan burung gagak. Sedang burung-burung camar duduk bertengger di batu-batuan teratas.

“Kelihatannya seperti terselubung rahasia,” kata Julian. “Aku kepingin sekali turun ke  darat dan melihat-lihat puri itu. Tentunya akan sangat asyik jika kita menginap semalam dua malam di sini.”

George berhenti mendayung ketika mendengar ucapan Julian itu. Matanya bersinar-sinar.

“Wah!” katanya dengan gembira. “Belum pernah pikiranku sampai ke situ! Benar katamu —  pasti asyik jika kita menginap semalam di pulauku. Cuma kita berempat saja, tidak  dengan ditemani orang lain. Menyiapkan makanan sendiri! Kita pura-pura hidup di sini.  Tentu akan menyenangkan, bukan?”

“Pasti,” sahut Dick sambil memandang dengan rasa kepingin ke arah pulau. “Kau kira —  menurut perasaanmu, ibumu akan mengijinkan?”

“Entah,” kata George. “Mungkin saja. Coba saja kautanyakan.”

“Kita tidak bisa turun ke darat sore ini?” tanya Julian.

“Tidak, kalau kalian masih mau melihat bangkai kapal karam,” jawab George. “Kita harus  sudah kembali ke rumah pada saat minum teh. Waktunya pas-pasan untuk berdayung ke sisi  pulau sebelah sana dan kembali lagi ke pantai.”

“Aku juga kepingin melihat bangkai kapalmu,” kata Julian. Ia bingung memilih antara  Pulau Kirrin dan bangkai kapal. “Sinilah, kubantu kau mendayung sebentar, George.  Masakan kau harus terus-terusan seorang diri.”

“Aku sanggup,” kata George. “Tapi sekali-sekali enak juga duduk beristirahat dalam  perahu. Begini sajalah! Aku terus mendayung sampai melewati tempat yang banyak batu batunya ini. Sudah itu kau yang mendayung, sampai tiba lagi di tempat yang gawat.  Sungguh, batu-batu yang berserakan di teluk ini sangat berbahaya.”

Kemudian George berganti tempat dengan Julian. Julian cukup pintar mendayung, tetapi  tidak sekuat George. Perahu melaju teroleng-oleng pelan. Mereka mengitari Pulau Kirrin, dan memandang puri dari sudut yang lain. Dilihat dari arah laut, kelihatannya lebih  rusak lagi.

“Angin lebih kencang bertiup dari lautan terbuka,” kata George menerangkan sebabnya.  “Di sebelah sini tak banyak lagi yang tersisa, kecuali tumpukan batu-batu. Tapi bagi  yang tahu jalannya, di situ ada tempat berlabuh yang baik dalam sebuah teluk kecil.”

Tak lama kemudian berganti George lagi yang mendayung. Perahu didayungnya sampai agak  jauh dari pulau. Kemudian ia berhenti, lalu memandang ke arah pantai.

“Bagaimana kau bisa tahu bila sudah berada di atas bangkai kapalmu?” tanya Julian  dengan heran. “Aku pasti takkan mungkin tahu.”

“Kaulihat menara gereja di daratan sana itu?” tanya George sambil menunjuk. “Dan  kaulihat puncak bukit yang itu? Nah, jika keduanya sudah berada segaris di antara kedua menara puri Pulau Kirrin, maka kau kurang lebih sudah berada di atas bangkai kapal. Aku sendiri yang berhasil mengetahuinya. Sudah lama sekali.”

Ketiga saudara sepupunya melihat bahwa puncak bukit di kejauhan dan menara gereja sudah segaris, dipandang dari tempat mereka terapung. Dan seperti dikatakan oleh George,  puncak bukit dan menara gereja itu nampak di antara dua menara puri di Pulau Kirrin.  Dengan segera mereka menatap ke dalam air, kepingin melihat bangkai kapal yang  diceritakan oleh saudara sepupu mereka.

Air di situ jernih sekali. Permukaannya hampir tak berombak. Tim juga ikut-ikut  memandang ke bawah. Kepalanya dimiringkan, sedang telinganya meruncing ke atas. Seolah olah tahu apa yang sedang dicari! Anak-anak tertawa melihat tingkahnya.

“Kita belum persis berada di atasnya,” kata George yang juga menatap ke bawah. “Tunggu  sebentar, akan kudayung perahu kita sedikit ke kiri.”

Tiba-tiba Tim menggonggong sambil mengibas-kibaskan ekor. Saat itu juga ketiga anak itu melihat sesuatu yang letaknya jauh di bawah permukaan air.

“Itu dia kapalnya!” seru Julian. Nyaris saja dia jatuh ke air karena ribut menunjuk nunjuk. “Aku bisa melihat tiangnya yang patah. Itu Dick, lihatlah!”

Keempat anak itu memandang ke dalam air dengan penuh perhatian. Tim juga ikut  memandang. Setelah memperhatikan sebentar, mereka berhasil mengenali bayangan tubuh  kapal yang gelap. Dari tengah bayangan itu menonjol tiangnya yang patah.

“Berbaringnya agak miring,” kata Julian. “Kasihan, kapal tua itu. Pasti tak enak  terbaring dengan tidak berdaya di dasar laut, hancur dengan perlahan-lahan. George, aku kepingin menyelam ke bawah. Aku kepingin memperhatikannya dari lebih dekat.”

“Kenapa tidak kaulakukan?” kata George. “Kau kan memakai celana berenang. Aku sudah  sering menyelam ke bawah. Kalau kau mau, kutemani menyelam. Asal Dick bisa menjaga agar perahu kita tetap berada di sekitar sini. Di sini ada arus yang bisa menyeret perahu ke tengah laut. Dick, kau harus terus mendayung dengan pelan ke arah pantai, supaya jangan hanyut.”

Dengan cepat George membuka pakaiannya, disusul oleh Julian. Mereka berdiri  berdampingan dengan pakaian renang. George melompat masuk ke air dari ujung perahu,  langsung menyelam ke bawah. Anak-anak yang lain memperhatikan betapa dia bergerak  dengan cepat ke dasar laut.

Sesudah beberapa saat George muncul lagi untuk mengambil napas.

“Aku tadi menyelam, hampir sampai ke tempat bangkai kapal,” katanya dengan napas  sengal. “Kelihatannya masih seperti biasa. Penuh dengan rumput laut dan bermacam-macam  kerang. Aku kepingin bisa menyelam sampai masuk ke kapal. Tapi napasku terlalu pendek.  Sekarang ganti kau yang menyelam, Julian.”

Julian terjun masuk ke air. Tetapi dia tak sepandai George berenang di bawah air,  sehingga tak bisa turun begitu jauh ke bawah. Tetapi Julian bisa berenang dengan mata  terbuka. Karena itu ia masih sempat memperhatikan keadaan geladak kapal karam itu.  Kelihatannya asing dan menyedihkan. Julian tak begitu senang melihatnya, karena  menimbulkan perasaan sedih. Ia merasa syukur ketika sudah muncul kembali ke atas  permukaan air. Ia merasa berbahagia bisa menghirup udara dalam-dalam, dan merasakan  sinar matahari yang hangat di atas kepala.

Julian naik ke perahu.

“Asyik deh,” katanya. “Wah, aku kepingin bisa melihat-lihat kapal itu dengan seksama.  Maksudku turun ke bawah geladaknya dan masuk ke dalam bilik-bilik untuk memeriksa.  Bayangkan, kalau kita berhasil menemukan peti-peti berisi emas!”

“Mustahil,” ujar George. “Sudah kukatakan, penyelam-penyelam sejati sudah pernah turun  ke bawah. Tapi mereka tak menemukan apa-apa. Eh, pukul berapa sekarang? Kita pasti  terlambat, bila tidak buru-buru pulang sekarang.”

Mereka bergegas-gegas mendayung ke arah pantai, dan hanya lima menit saja terlambat  dari waktu yang ditetapkan. Sehabis minum teh mereka jalan-jalan ke daerah rawa di  belakang rumah, dengan diiringi oleh Tim. Saat tidur mereka sudah sangat mengantuk.  Kelopak mata sudah mau tertutup saja.

“Selamat tidur, George,” kata Anne sambil merebahkan diri ke tempat tidurnya. “Sehari  ini kita senang sekali, karena engkau.”

“Aku pun sehari ini senang sekali,” kata George dengan suara agak ketus. Ia agak kikuk, karena tak biasa bersikap ramah. “Dan itu karena kalian. Aku senang kalian datang ke  mari. Kita pasti akan bisa bersenang-senang. Dan kalian pasti akan menyukai puri dan  pulau kecilku!”

“Terang,” jawab Anne. Malam itu ia bermimpi rentang beratus-ratus kapal karam, puri dan pulau-pulau. Ah, kapankah mereka akan diajak George ke pulaunya?

 

V
KE PULAU

Keesokan harinya Bibi mengajak pergi piknik.

Mereka berangkat ke sebuah teluk kecil yang letaknya tak seberapa jauh, di mana mereka  bisa berenang dan berperahu sepuas hati. Piknik itu menyenangkan. Tetapi dalam hati  mereka, Julian dan kedua adiknya lebih suka apabila bisa ke pulau kepunyaan George.  Mereka sangat kepingin ke sana.

George sebetulnya tak mau ikut. Bukan karena tidak suka piknik, melainkan karena Tim  tidak bisa dibawa serta. Tetapi ibunya menyuruh ikut, dan George terpaksa tak bisa  bermain-main sehari dengan Tim.

“Sial!” kata Julian pada George. Ia bisa menebak, kenapa saudara sepupunya itu bermuka  muram. “Aku tak mengerti, kenapa tak kauceritakan saja tentang Tim kepada ibumu. Aku  yakin dia tidak keberatan, jika Tim dipelihara orang lain untukmu. Aku tahu, kalau  ibuku pasti takkan keberatan.”

“Aku tak mau menceritakannya pada siapa pun kecuali kalian,” kata George. “Aku selalu  mengalami kericuhan di rumah. Kurasa yang salah memang aku sendiri. Tapi lama-kelamaan  bosan juga, selalu dimarahi. Ayah kepingin sekali memanjakan kami. Ia ingin membeli  barang yang mahal-mahal untuk Ibu dan aku. Tapi tak bisa, karena penghasilannya tak  seberapa sebagai pengarang buku-buku ilmu pengetahuan. Karena itulah dia selalu marah marah. Ayah ingin menyekolahkan aku ke internat yang baik. Tapi ia tak punya uang untuk itu. Syukurlah! Aku tak mau pergi bersekolah ke tempat lain. Aku senang di sini. Aku  tak bisa berpisah dengan Tim.”

“Kau pasti senang jika bersekolah di internat,” kata Anne. “Kami bertiga masuk asrama.  Asyik deh di sana!”

“Tidak, aku tidak senang,” jawab George berkeras kepala. “Terang tidak enak berkumpul  beramai-ramai, dengan anak-anak perempuan tertawa-tawa dan berteriak-teriak di  sekelilingku. Aku pasti membencinya.”

“Ah, tidak mungkin,” kata Anne. “Itu semuanya kan asyik. Kurasa ada baiknya jika kau  juga bersekolah dalam asrama, George.”

“Kalau kau mau mulai mengajari dan mengatakan apa yang baik untukku, aku nanti akan

benci padamu,” kata George dengan keras. Air mukanya tiba-tiba kelihatan galak. “Ayah  dan Ibu selalu menyebut-nyebutkan hal-hal yang baik untukku — dan semuanya tak  kusenangi.”

“Ya, sudahlah,” ujar Julian sambil tertawa geli. “Ya ampun, kau ini cepat benar marah!  Kurasa kalau saat ini ada orang mau merokok, dia bisa menyalakan rokoknya pada nyala  yang memancar-mancar dari matamu!”

George tertawa mendengar kelakar Julian, walau sebetulnya dia tak mau tertawa. Memang  susah merajuk terus, jika menghadapi Julian yang periang.

Untuk kelima kalinya hari itu mereka masuk lagi ke dalam air. Tak lama kemudian mereka  sudah asyik bercebur-ceburan air dengan gembira. George bahkan sempat mengajar Anne  berenang. Anak perempuan yang masih kecil itu belum begitu tahu bagaimana caranya  berenang dengan baik. George merasa bangga, ketika Anne akhirnya berhasil meluncur di  air dengan gaya yang benar.

“Terima kasih,” ujar Anne sambil berusaha mengikuti gerak saudara sepupunya. “Aku  takkan pernah bisa berenang sebaik engkau — tapi aku kepingin menandingi abang abangku.”

Dalam perjalanan pulang, George mengajak Julian bicara.

“Bisakah kau minta ijin sebentar pada ibuku — katakan saja ingin membeli perangko atau  salah satu barang?” tanyanya. “Dan aku ikut bersamamu. Jadi aku bisa menjenguk Tim  sebentar. Pasti dia sudah heran, kenapa hari ini aku tak datang untuk mengajaknya  jalan-jalan.”

“Setuju!” kata Julian. “Aku tak memerlukan perangko, tapi kepingin makan eskrim. Dick  dan Anne bisa membantu ibumu membawa barang-barang pulang ke rumah. Tunggu sebentar di  sini, aku akan segera menanyakannya pada Bibi Fanny.”

Julian lari menghampiri bibinya.

“Bolehkah aku pergi membeli eskrim?” tanyanya. “Sehari ini kami belum makan es. Aku  takkan pergi lama-lama. Dan bolehkah George kuajak ikut?”

“Kurasa dia takkan mau,” jawab Bibi. “Tapi tanya saja sendiri.”

“George, ayoh ikut aku!” seru Julian, lalu lari cepat-cepat ke desa. George nyengir  lalu lari mengejar. Dengan segera Julian berhasil disusulnya. George tersenyum gembira.

“Terima kasih,” katanya. “Kau sekarang pergi saja membeli eskrim, sedang aku akan  menengok Tim.”

Mereka berpisah. Julian pergi membeli empat eskrim, lalu berjalan pulang. Ia berjalan  pelan-pelan sambil menunggu George. Beberapa menit kemudian saudara sepupunya menyusul  dari belakang. Mukanya bersinar gembira.

“Aku sudah menengoknya,” kata George. “Wah, bukan main girangnya ketika melihat aku  datang! Aku nyaris jatuh ditubruknya. Loh, aku mendapat eskrim lagi? Baik benar kau  ini, Julian. Aku mesti cepat-cepat membalas kebaikan budimu. Bagaimana kalau kita besok pergi ke pulau?”

“Astaga!” seru Julian dengan mata bersinar karena gembira. “Kau sungguh-sungguh mau  mengajak kami ke sana besok? Ayoh, kita menceritakannya kepada kedua adikku!”

Keempat anak itu duduk di kebun sambil makan eskrim. Julian menceritakan ajakan George. Mereka gembira sekali. George merasa senang. Sebelumnya dia selalu merasa dianggap  penting, jika bisa dengan angkuh menolak untuk mengajak anak-anak lain ke Pulau Kirrin. Tetapi entah bagaimana, rasanya lebih puas setelah setuju akan mengantarkan saudara saudara sepupunya dengan perahu ke pulaunya.

“Dulu aku selalu menyangka lebih senang jika melakukan segala-galanya seorang diri,”  katanya dalam hati sambil mengulum potongan eskrimnya yang terakhir. “Tapi ternyata  lebih asyik jika bersama-sama dengan Julian dan adik-adiknya.”

Anak-anak dipanggil masuk. Mereka disuruh membersihkan badan, karena tak lama lagi akan makan malam. Mereka masuk sambil mengobrol dengan ramai tentang kunjungan mereka besok  ke Pulau Kirrin. Bibi Fanny tersenyum mendengarnya.

“Aku senang mendengar bahwa George mau membagi miliknya dengan kalian,” ujar Bibi.  “Maukah kalian makan siang dan bermain-main seharian di sana? Kurasa sayang waktunya  jika kalian berdayung dengan susah-payah ke sana, apabila sesudah itu mesti kembali  lagi cepat-cepat.”

“Wah, bibi Fanny — tentu saja kami akan senang jika diperbolehkan makan siang di sana!” seru Anne girang.

George memandang ibunya.

“Ibu juga ikut?” tanyanya.

“Dari caramu bertanya, aku mendapat kesan bahwa kau tak ingin aku ikut,” ujar Bibi agak tersinggung. “Kemarin pun kau kelihatan kesal, ketika mendengar bahwa aku ikut piknik.  Tidak! Aku tidak ikut besok. Tapi tentunya saudara-saudara sepupumu menganggap kau ini  aneh, karena tak senang jika ibumu ikut.”

George diam saja. Dia jarang membantah apabila kena marah. Ketiga saudara sepupunya  juga berdiam diri. Mereka tahu, kenapa George begitu. Bukan karena tak suka ibunya  ikut, melainkan karena ia ingin mengajak Tim.

“Pokoknya, aku tidak bisa ikut dengan kalian,” sambung Bibi Fanny. “Aku harus mengurus  kebun. Kalian aman, bila pergi bersama George. Dia cekatan sekali mendayung perahu.”

Begitu bangun keesokan harinya, Julian dan kedua adiknya cepat-cepat menjulurkan kepala ke luar jendela. Mereka hendak melihat keadaan cuaca. Matahari bersinar cerah. Udara  bagus nampaknya.

“Bagus sekali hari ini, ya?” kata Anne pada George sambil mengenakan pakaian. “Aku  sudah tidak sabar lagi, ingin cepat-cepat ke pulau.”

“Terus terang saja, menurut pendapatku lebih baik kita tidak jadi pergi,” ujar George. “Kenapa?” seru Anne. Ia kecewa mendengar kata sepupunya yang tak disangka-sangka itu. “Kurasa nanti akan ada angin ribut,” kata George sambil memandang ke arah barat daya.

“Kenapa kaukatakan begitu, George?” tanya Anne dengan kesal. “Lihat saja sendiri,  matahari bersinar cerah! Hampir tak nampak satu awan pun di langit.”

“Tapi angin bertiup dari arah buruk,” jawab George. “Dan kau tak melihat itu — buih  memutih di atas ombak yang berdebur dekat pulauku? Itu selalu merupakan pertanda cuaca  buruk.”

“Aduh George! Kami akan sangat menyesal, bila tidak jadi pergi hari ini,” keluh Anne.  Dia memang tak kuat menghadapi kekecewaan, baik kecil maupun besar. “Lagipula kalau  kita mendekam saja di rumah karena takut angin ribut, kita takkan bisa bermain-main  dengan Tim,” tambahnya untuk membujuk George.

“Betul juga katamu,” kata George mempertimbangkan. “Baiklah! Kita akan pergi. Tapi  ingat — bila nanti ada angin ribut, kau tak boleh takut seperti anak kecil. Kau harus  menikmatinya, dan jangan cengeng.”

“Wah, aku sebenarnya tak begitu suka pada angin ribut,” kata Anne agak kuatir. Tetapi  ia tak jadi meneruskan kata-katanya, karena dilihatnya George memandang dengan agak  mencemoohkan. Mereka turun ke bawah. Sambil sarapan George menanyakan kepada ibunya,  apakah mereka boleh membawa bekal makan siang seperti direncanakan semula.

“Ya,” jawab Bibi. “Kau dan Anne bisa membantuku, menyiapkan roti. Julian dan Dick pergi ke kebun, untuk memetik buah-buahan yang akan dibawa. Kalau sudah, Julian pergi ke desa untuk membeli limun beberapa botol. Terserah, apa kesukaan kalian.”

“Aku suka limun jahe!” seru Julian, disusul dengan permintaan yang sama oleh ketiga  saudaranya. Anak-anak sangat gembira. Pasti menyenangkan, karena akan bisa mendatangi  pulau kecil yang aneh itu. Sedang George merasa gembira, karena akan bisa bermain-main  dengan Tim sepanjang hari.

Akhirnya mereka berangkat juga. Makanan ditaruh dalam dua buah keranjang. Mula-mula  mereka pergi menjemput Tim. Anjing itu diikat dengan tali di halaman belakang rumah  anak nelayan yang memeliharanya. Anak itu ada di rumah. Ia nyengir ketika melihat  mereka datang.

“Selamat pagi, Master George,” katanya menyapa. Ketiga saudara sepupu George merasa  janggal sekali mendengar Georgina yang perempuan disapa dengan sebutan ‘Master’. Tapi  George sendiri tertawa senang.

“Dari tadi Tim sudah ramai menggonggong-gonggong,” ujar anak nelayan itu. “Rupanya  sudah merasa bahwa hari ini kau akan datang menjemputnya.”

“Tentu saja dia tahu,” kata George sambil melepaskan ikatan. Begitu terlepas, Tim  melonjak-lonjak sambil lari-lari mengelilingi anak-anak. Ia berlari kian ke mari dengan buntut lurus ke bawah dan kuping rapat ke kepala.

“Kalau dia seekor ‘greyhound’, setiap perlombaan pasti akan dimenangkan olehnya,” ujar  Julian dengan kagum. ‘Greyhound’ adalah jenis anjing yang biasa dipertandingkan dalam  perlombaan-perlombaan lari. Begitu banyak debu mengepul, sampai Tim nyaris tak nampak  lagi. “Tim! Sini Tim. Ayoh, ke marilah, bilang selamat pagi!”

Tim melompat dan menyambar tangan Julian sambil lari melewatinya. Kemudian dia tenang  kembali, lalu berlari-lari di sisi George yang berjalan bersama ketiga saudara  sepupunya menuju ke pantai.

Sesampai di pantai, dengan segera mereka masuk ke perahu. George mendorong sampai ke  air, lalu melompat naik. Anak nelayan itu melambai-lambai dari darat.

“Kalian jangan terlalu lama pergi,” serunya memperingatkan. “Kelihatannya nanti akan  ada angin ribut.”

“Aku tahu,” seru George menjawab. “Tapi mungkin sebelum sampai ke mari, kami sudah  kembali. Sekarang masih jauh sekali.”

George sendiri yang mendayung sampai ke pulau. Tim berpindah-pindah dari ujung ke ujung perahu. Ia ribut menggonggong, bila ada ombak bergulung ke arahnya. Anak-anak menatap  Pulau Kirrin yang semakin mendekat. Kelihatannya lebih mengasyikkan daripada kemarin.

“George, kau tahu di mana harus mendarat?” tanya Julian. “Tak bisa kubayangkan, kau  tahu betul jalan di sela-sela batu seram yang berserakan di sini. Aku kuatir, sebentar  lagi kita akan terbentur.”

“Aku akan mendarat di teluk kecil yang kuceritakan kemarin,” kata George. “Jalan ke  situ cuma ada satu, tapi aku sudah hafal sekali. Tempatnya tersembunyi di sisi pulau  sebelah timur.”

Dengan cekatan didayungnya perahu mengelakkan batu-batu yang tersembul di air. Sehabis  mengitari sederetan batu karang yang runcing, tiba-tiba nampaklah teluk yang

dimaksudkan oleh George. Teluk itu merupakan pelabuhan alam. Air di situ tenang,  terlindung di balik beting karang yang tinggi. Perahu mereka masuk ke dalam teluk.  Begitu masuk, perahu tak oleng lagi.

“Wah, enak di sini!” kata Julian dengan mata bersinar-sinar karena gembira. George  memandangnya. Matanya juga bersinar-sinar, biru secerah air laut. Baru kali itulah ia  mengajak orang lain ke pulaunya. Dan George merasa gembira karenanya.

Perahu mereka mendarat di pasir yang putih.

“Kita benar-benar sudah sampai di pulau!” seru Anne sambil menandak-nandak. Tim ikut  melonjak-lonjak, seperti kemasukan setan. Anak-anak yang lain tertawa melihat keduanya. George menarik perahu sampai jauh ke tengah pasir.

“Kenapa begini jauh?” tanya Julian sambil membantu. “Sebentar lagi kan sudah pasang  tinggi. Tak mungkin air akan sampai di sini.”

“Kan sudah kukatakan tadi, sebentar lagi akan ada angin ribut,” ujar George. “Saat itu  ombak akan bergulung-gulung melanda di sini. Dan kita tak kepingin kehilangan perahu,  bukan?”

“Ayohlah! Kita periksa pulau ini,” seru Anne. Anak itu mendaki tebing batu, dan sudah  berdiri di atas pelabuhan alam itu. “Ayohlah!”

Anak-anak yang lain menyusul naik. Tempat itu benar-benar mengasyikkan. Di mana-mana  ada kelinci berlompatan! Tetapi binatang-binatang itu tidak lari bersembunyi ketika  melihat anak-anak datang.

“Jinak sekali mereka,” kata Julian dengan heran.

“Tak ada orang lain yang pernah ke mari, kecuali aku,” kata George, “Dan aku tak pernah menakut-nakuti mereka. Tim! Kupukul engkau, jika kelinci-kelinci itu kaukejar!”

Tim memandang George dengan sedih. Dia selalu menurut kata George, kecuali kalau  persoalannya mengenai kelinci. Untuk Tim, kelinci itu cuma satu saja gunanya, yaitu  untuk diburu. Tim tak bisa mengerti, mengapa George melarangnya. Tetapi Tim menahan  diri. Ia berjalan mendampingi anak-anak, sementara matanya mengikuti tingkah laku  kelinci-kelinci yang berlompatan di sekitarnya. Ia sangat kepingin mengejar, tapi  dilarang oleh George. Sial!

“Kurasa mereka pasti akan mau mengambil makanan dari tanganku,” kata Julian. Tetapi George menggelengkan kepala.

“Aku sudah pernah mencoba,” katanya. “Tapi mereka tidak mau. Lihatlah kelinci-kelinci  yang masih kecil-kecil itu. Lucu ya?”

Tim menyalak untuk menyatakan persetujuannya, lalu hendak mendekati. George menggeram  untuk memperingatkannya. Dengan serta merta Tim kembali dengan buntut terkulai.

“Itu dia puri!” kata Julian. “Bagaimana, kita memeriksa juga ke sana? Aku kepingin  melihatnya.”

“Ayohlah,” kata George. “Lihatlah — dulu itu jalan masuk ke dalam, lewat gerbang yang  sudah runtuh itu!”

Anak-anak memandang ke arah gerbang besar yang sudah setengah runtuh. Di belakangnya  nampak tangga batu yang sudah pecah-pecah, menuju ke tengah puri.

“Puri ini dulunya berdinding kokoh, dengan dua buah menara,” ujar George. “Menara yang  satu sudah hampir runtuh sama sekali. Tapi yang satu lagi masih lumayan. Setiap tahun  burung-burung gagak membuat sarang di dalamnya. Menara itu sudah hampir penuh dengan

ranting-ranting.”

Ketika anak-anak sudah dekat ke menara yang masih bisa dikatakan utuh, dua ekor burung  gagak terbang mengitari mereka sambil berkaok-kaok dengan ributnya. Tim meloncat-loncat seolah-olah hendak menangkap, tetapi burung-burung itu terbang terlalu tinggi. Kedua  gagak itu ribut mengejeknya.

“Ini dia bagian tengah puri,” ujar George. Mereka melewati ambang yang sudah nyaris  runtuh, dan masuk ke suatu tempat yang kelihatannya seperti pekarangan luas. Dulu di  situ terdapat lantai batu. Tetapi sekarang sudah penuh dengan rumput serta tumbuh tumbuhan lain. “Di sinilah penghuninya hidup di jaman dulu. Kalian bisa melihat bekas  ruangan-ruangannya. Lihatlah, di sebelah sana masih ada yang cukup utuh. Masuk saja  lewat pintu kecil itu. Nanti kalian lihat sendiri.”

Mereka berjalan beriringan melewati sebuah ambang pintu, dan sampai di sebuah kamar.  Kamar itu gelap, berdinding dan berlangit-langit batu. Di salah satu sisinya nampak  sebuah tempat yang dulunya perapian. Ruangan itu dirasakan aneh dan penuh rahasia.

“Sayang semuanya sudah ambruk,” ujar Julian sambil berjalan ke luar. “Rupanya cuma  kamar itu saja yang masih termasuk utuh. Kamar-kamar lain juga masih ada, tapi kalau  bukan tak beratap lagi pasti salah satu dindingnya sudah lenyap. Hanya kamar yang satu  itu saja yang masih bisa ditempati. Apakah puri ini ada tingkat atasnya, George?”

“Tentu saja,” jawab George. “Tapi tangga ke situ sudah tak ada lagi. Lihatlah! Sebagian dari sebuah kamar tingkat atas bisa kaulihat dari sini. Itu, dekat menara tempat  burung-burung gagak bersarang. Tapi kita tak bisa naik ke sana. Aku sudah mencobanya.  Nyaris saja patah leherku karenanya. Batu-batunya sudah rapuh.”

“Di sini juga ada sel di bawah tanah?” tanya Dick.

“Aku tak tahu,” jawab George. “Tapi kurasa mesti ada. Walau begitu tak ada yang bisa  menemukan, karena semuanya sudah rimbun dengan tumbuh-tumbuhan.”

Benar juga kata George itu. Di sana sini tumbuh semak-semak pohon bes. Dari celah-celah batu bermunculan belukar yang lebat. Di mana-mana tumbuh rumput besar, begitu pula  tumbuh-tumbuhan lainnya.

“Menurut perasaanku tempat ini indah sekali,” kata Anne. “Benar-benar indah.”

“Begitu?” kata George. Ia senang karena Anne memuji purinya. “Lihatlah, kita sekarang  sudah berada di sisi satunya lagi dari pulauku, yang berhadapan dengan laut. Kalian  lihat batu-batu besar di sana, yang diduduki oleh burung-burung besar yang kelihatannya aneh itu?”

Ketiga saudara sepupunya memandang ke arah yang ditunjuk oleh George. Mereka melihat  beberapa buah batu tersembul di atas permukaan air. Beberapa ekor burung besar berbulu  hitam mengkilat duduk dengan sikap aneh di atasnya.

“Itu burung-burung kormoran,” ujar George. “Mereka sudah berhasil menangkap cukup  banyak ikan untuk makan mereka, dan sekarang mereka duduk di situ untuk mencernakannya. Loh! Mereka terbang. Kenapa mereka lari?”

Segera sesudah itu ia juga tahu, karena tiba-tiba dari arah barat daya kedengaran bunyi guruh bergulung-gulung.

“Guruh!” kata George. “Rupanya angin ribut datang lebih cepat daripada yang kusangka  semula.”

 

 

VI
AKIBAT ANGIN RIBUT

Keempat anak itu menatap ke laut. Selama itu mereka begitu asyik melihat-lihat puri tua yang menarik itu sehingga tak ada yang sempat memperhatikan perubahan cuaca.

Sekali lagi terdengar bunyi guruh bergulung-gulung. Seolah-olah di atas langit ada  seekor anjing besar yang sedang menggeram. Tim membalas, kedengarannya seperti guruh  berukuran kecil.

“Ya ampun, kita terjebak,” ujar George dengan agak ngeri. “Kita takkan sempat kembali  ke pantai. Itu sudah pasti Angin bertiup sangat kencang. Kalian pernah melihat  perubahan di langit seperti itu?”

Sewaktu mereka berangkat, langit masih berwarna biru cerah. Tetapi sekarang sudah  kelabu gelap. Awan tebal yang menutupi, sangat rendah nampaknya. Awan-awan itu seakan  lari berkejar-kejaran. Angin yang meniup menimbulkan suara melolong-lolong, sehingga  Anne merasa ketakutan mendengarnya.

“Hujan sudah mulai turun,” kata Julian. Setetes air yang besar membasahi tangannya yang diulurkan. “Sebaiknya kita cepat-cepat mencari perlindungan, George! Kalau tidak, nanti kita basah kuyup.”

“Ya, sebentar lagi,” kata George. “Aduh, coba lihat betapa besar ombak yang datang  bergulung-gulung itu. Badainya akan benar-benar dahsyat rupanya. Astaga — seram benar  kilat itu!”

Ombak memang mulai meninggi. Anak-anak tercengang melihat perubahan yang terjadi. Ombak makin lama makin membesar, bergulung melampaui deretan batu karang, lalu melaju dengan  suara keras menuju ke pantai.

“Kurasa lebih baik perahu kita tarik lebih tinggi lagi,” ujar George tiba-tiba.  “Kelihatannya badai yang akan mengamuk dahsyat sekali. Kadang-kadang badai di musim  panas lebih hebat daripada di musim dingin.”

Bersama Julian, George lari ke tempat perahu mereka. Untung saja, karena ombak yang  besar-besar sudah mulai menyambar ke dekat perahu. Kedua anak itu menyeretnya hampir  sampai ke puncak sebuah bukit batu yang rendah. George menambatkannya ke pangkal sebuah semak kokoh yang tumbuh di situ.

Sementara itu hujan sudah turun seperti dicurahkan dari langit. Dengan cepat George dan Julian sudah basah kuyup.

“Mudah-mudahan Dick dan Anne ingat dan berlindung dalam kamar yang masih utuh dinding  dan langit-langitnya,” kata George.

Ternyata keduanya memang berlindung di situ. Mereka kelihatan menggigil, karena agak  kedinginan dan ketakutan. Kamar itu gelap, karena cahaya hanya masuk dari dua jendela  kecil dan dari lubang pintu sempit.

“Bisakah kita menyalakan api, supaya suasana di sini agak enak?” kata Julian sambil  memandang berkeliling. “Di mana bisa kita dapatkan ranting-ranting yang kering?”

Seolah-olah menjawab pertanyaan, segerombolan burung gagak berteriak-teriak sambil

terbang berputar-putar di tengah badai.

“Ya, tentu saja. Di dasar menara banyak bertaburan ranting-ranting!” seru Julian.  “Maksudku di mana burung-burung itu bersarang. Di sana banyak ranting yang terjatuh.”

Julian lari di tengah hujan, menuju ke menara. Dengan cepat diraupnya ranting-ranting  yang ada di situ, lalu lari kembali ke tempat berteduh.

“Bagus!” kata George. “Dengannya kita bisa menyalakan api unggun. Ada yang punya kertas dan korek api untuk membakarnya.”

“Kalau korek api, aku punya,” kata Julian. “Tapi tak ada yang membawa kertas.”

“Ada,” kata Anne tiba-tiba. “Roti kita dibungkus dalam kertas. Kita keluarkan saja  rotinya, supaya kertas itu bisa kita pakai untuk menghidupkan api.”

“Bagus idemu itu,” kata George. Mereka lantas membuka bungkusan roti. Rotinya disusun  rapi di atas sekeping batu pecah, sesudah dibersihkan terlebih dulu. Kemudian mereka  menghidupkan api unggun. Kertas pembungkus ditaruh paling bawah, setelah itu ranting ranting diatur bersilang di atasnya.

Senang sekali mereka ketika kertas mulai terbakar. Nyala membesar dan membakar ranting ranting dengan segera. Ranting-ranting itu kering semuanya. Tak lama kemudian api  unggun sudah menyala. Kamar sempit itu diterangi cahaya api yang menari-nari. Di luar  sudah gelap sekali. Awan mendung sangat rendah, nyaris menyentuh ujung menara puri.  Awan itu melayang dengan cepat ke arah timur laut, seperti diburu dari belakang oleh  angin yang bertiup menderu-deru. Suaranya sama keras seperti deru ombak yang memecah di pantai pulau itu.

“Belum pernah kudengar laut berbunyi begitu ribut,” kata Anne. “Kedengarannya seperti  sedang berteriak sekuat-kuatnya.”

Anak-anak nyaris tak bisa mendengar suara mereka sendiri, karena kalah dengan bunyi  angin dan ombak. Mereka terpaksa berteriak-teriak.

“Ayoh, kita makan saja sekarang!” seru Dick. Dia sudah merasa lapar, seperti biasanya.  “Selama badai masih mengamuk, kita toh tak bisa berbuat apa-apa.”

“Ayohlah,” sambut Anne sambil melihat ke arah roti dengan rasa kepingin. “Asyik juga,  berpiknik mengelilingi api unggun di kamar yang gelap ini. Aku kepingin tahu, berapa  lama waktu yang sudah lewat sejak ada orang-orang jaman dulu makan di sini. Aku  kepingin bisa melihat mereka.”

“Aku tidak mau,” ujar Dick, sambil memandang berkeliling dengan agak takut-takut.  Seolah-olah dia mengira akan ada orang-orang jaman dulu masuk dan ikut piknik bersama  mereka. “Hari ini sudah cukup aneh. Tak perlu lagi mengharapkan kejadian seperti itu.”

Mereka merasa lebih enak, setelah menghabiskan bekal roti dan minuman. Api unggun  menyala semakin besar ketika semakin banyak ranting-ranting yang terbakar. Nyalanya  menghangatkan tubuh. Untunglah, karena sebagai akibat angin yang bertiup sangat  kencang, udara menjadi lebih dingin dari semula.

“Kita berganti-ganti mengambil kayu kering,” kata George. Tetapi Anne tak mau pergi  seorang diri. Ia berusaha sedapat-dapatnya untuk tidak menampakkan rasa takutnya  terhadap badai. Namun ia tak sanggup keluar dari kamar yang hangat itu, untuk mengambil kayu di tengah hujan lebat. Apalagi kilat dan petir menyambar-nyambar.

Tim juga tidak menyukai badai. Anjing itu duduk merapatkan diri pada George. Kupingnya  tegak, dan setiap kali terdengar bunyi guruh ia ikut menggeram. Anak-anak mengumpaninya dengan potongan-potongan roti. Tim makan dengan lahap, karena ia pun merasa lapar.

Setiap anak mendapat empat potong biskuit.

“Punyaku akan kuberikan semua pada Tim,” kata George. “Aku tak membawa biskuit  makanannya. Sedang kelihatannya ia sangat lapar.”

“Jangan,” kata Julian. “Kita masing-masing memberikan sebuah padanya. Jadi Tim mendapat empat biskuit, sedang untuk kita masing-masing masih ada tiga buah. Untuk kita, itu kan sudah banyak.”

“Kau baik sekali,” kata George. “Bagaimana pendapatmu, Tim, baikkah mereka ini?”

Tim menyalak untuk menyatakan persetujuannya dengan kata-kata George. Anak-anak tertawa mendengarnya. Tim merebahkan diri, lalu digelitik oleh Julian perutnya.

Anak-anak tak lupa memasukkan ranting-ranting kering ke api supaya jangan padam, sambil makan-makan. Kemudian tiba lagi giliran Julian untuk mengambil kayu bakar. Ia ke luar  dan lari ke tengah hujan. Ia berdiri sambil memandang berkeliling, sementara air hujan  membasahi kepalanya.

Rupanya saat itu badai sudah tepat berada di atas pulau. Kilat menyambar, diiringi  bunyi petir pada saat bersamaan. Julian sebenarnya sama sekali tidak takut terhadap  badai. Tetapi mau tidak mau, hatinya agak gentar juga sekali itu. Badai dahsyat sekali! Kilat sambar-menyambar, diiringi bunyi petir yang nyaringnya memekakkan telinga.  Seolah-olah di sekelilingnya ada gunung-gunung rubuh.

Di sela-sela bunyi petir dan guruh terdengar deru laut. Bunyinya juga mengagumkan.  Percikan ombak terbang begitu tinggi, sehingga membasahi Julian yang sedang berdiri di  tengah reruntuhan puri.

“Aku kepingin melihat wujud ombak di tengah angin ribut,” katanya pada diri sendiri.  “Kalau percikannya saja bisa membasahi tubuhku di sini, mestinya ombak itu besar  sekali!”

Julian berjalan keluar dari puri, lalu menaiki bekas tembok yang dulu mengelilingi  puri. Julian berdiri di atas runtuhan tembok, memandang ke arah lautan. Ia berdiri  tercengang-cengang! Ia kagum melihat pemandangan di depannya.

Ombak laut kelihatan seperti tembok tinggi berwarna hijau tua bercampur kelabu, melanda batu-batu karang yang berhamparan sekeliling pulau. Percikannya nampak putih kemilau di depan langit yang berwarna kelabu kelam. Ombak besar itu bergulung-gulung sampai ke  pantai dan terbanting dengan keras di situ. Benturannya begitu keras, sehingga tembok  tempat Julian berpijak tergetar sebagai akibatnya.

Julian takjub memandang laut yang sedang mengamuk. Sesaat dikiranya ombak akan  membanjiri Pulau Kirrin. Tetapi ia tahu hal itu tak mungkin terjadi. Sementara sedang  menatap ombak besar yang datang bergulung-gulung, ia melihat sesuatu yang aneh.

Ada sesuatu benda di dekat batu-batu di depan pantai, kecuali ombak. Benda itu besar  dan berwarna gelap. Kelihatannya seperti akan tersembul keluar dari air, lalu surut  kembali. Benda apakah itu?

“Tak mungkin sebuah kapal,” ujar Julian pada dirinya sendiri. Hatinya mulai berdebar debar keras, sementara ia memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas di sela hujan dan percikan ombak. “Tapi kelihatannya mirip sekali seperti kapal. Mudah-mudahan saja  bukan, karena tak mungkin ada yang bisa diselamatkan dalam badai sedahsyat ini.”

Julian berdiri sambil memandang ke arah benda gelap yang timbul tenggelam dalam laut.  Kemudian diambilnya keputusan untuk memberitahukan pada anak-anak. Dengan bergegas ia  kembali ke kamar yang diterangi cahaya api unggun.

“George! Dick! Di batu-batu depan pulau ini ada sesuatu benda aneh?” serunya sekuat  tenaga. “Kelihatannya seperti kapal, tapi mustahil. Lihat sajalah sendiri!”

Anak-anak memandangnya keheranan, lalu meloncat bangkit. George cepat-cepat  mencampakkan beberapa potong ranting ke api supaya tidak padam, lalu lari bersama anak anak menyusul Julian yang sudah mendahului.

Badai sudah agak mereda. Hujan sudah tidak lagi selebat tadi. Bunyi guruh agak menjauh, sedang kilat pun tidak begitu sering lagi menyambar. Julian lari mendahului ke tembok,  di mana ia sebelumnya berdiri memandang ke laut.

Semua ikut memanjat dan menatap ke laut. Mereka melihat air berwarna hijau gelap  bergejolak. Ombak besar-besar datang bergulung-gulung dan memecah di batu-batu, lalu  memburu ke pulau seolah-olah hendak menerkam. Anne memegang lengan Julian erat-erat.  Anak itu merasa kecil dan ketakutan.

“Kau tak perlu takut, Anne,” ujar Julian keras-keras. “Perhatikanlah, sebentar lagi  akan nampak sesuatu yang aneh.”

Mereka semua asyik memperhatikan. Mula-mula tak ada yang kelihatan kecuali ombak yang  membubung tinggi. Tiba-tiba nampak oleh George benda yang dimaksudkan Julian.

“Ya Tuhan,” serunya, “Itu kapal! Betul, sebuah kapal! Terdamparkah dia di situ? Itu  kapal besar — bukan perahu layar atau sekoci nelayan.”

“Ada orang di dalamnya?” tanya Anne setengah menangis.

Anak-anak memperhatikan seperti terpaku di tempat mereka berdiri. Tim menggonggong  dengan ribut, ketika dilihatnya benda gelap yang aneh terombang-ambing dipukul ombak  yang besar-besar. Kapal itu didorong alun ke arah pantai.

“Sebentar lagi pasti terbanting ke batu-batu itu,” kata Julian tiba-tiba. “Lihatlah!”

Saat ia sedang berkata begitu, terdengar bunyi berderak nyaring, seperti ada benda yang pecah. Kapal itu terdampar ke batu-batu runcing yang terdapat di sebelah barat daya  Pulau Kirrin.

“Dia terdampar,” kata Julian, “tak bisa bergerak lagi. Sebentar lagi laut akan surut  sedikit, dan kapal itu akan tetap tersangkut di situ.”

Sementara Julian sedang ngomong, awan yang sudah menjadi tipis merenggang sebentar dan  melewatkan sinar matahari yang pucat. Tetapi hanya sebentar saja, sesudah itu awan  merapat kembali.

“Bagus!” kata Dick sambil menengadah. “Sebentar lagi matahari akan muncul. Tubuh kita  bisa menjadi hangat kembali, dan pakaian kita akan kering. Mudah-mudahan nanti kita  bisa melihat, kapal apa yang sial itu. Mudah-mudahan tak ada orang di dalamnya. Mudah mudahan semua sudah berhasil menyelamatkan diri dengan sekoci-sekoci ke darat.”

Awan semakin tipis. Angin sudah tidak menderu-deru lagi. Matahari memancarkan sinarnya  agak lama. Terasa oleh anak-anak kehangatannya. Mereka semua menatap ke kapal yang  terdampar di batu karang. Sinar matahari meneranginya.

“Ada sesuatu yang aneh pada kapal itu,” kata Julian sambil berpikir-pikir. “Sesuatu  yang aneh sekali. Aku belum pernah melihat kapal semacam itu.”

George menatapnya dengan pandangan aneh. Kemudian ia berpaling memandang ketiga saudara sepupunya. Mereka heran, karena mata George bersinar-sinar gembira. Ia demikian  gembira, sehingga nyaris tak bisa ngomong.

“Ada apa?” tanya Julian sambil memegang tangannya.

“Julian — itu — Julian, itu bangkai kapalku!” jerit George dengan suara melengking  tinggi. “Masakan kau tak bisa menebak apa yang telah terjadi tadi! Laut yang bergolak  karena badai mengangkatnya dari dasar laut, lalu membantingnya sehingga kandas di atas

batu karang itu. Itu bangkai kapalku!”

Seketika itu juga ketiga saudara sepupunya melihat bahwa kata George benar. Itu memang  bangkai kapal tua yang karam. Pantas kelihatannya aneh! Karena itulah kelihatannya  sangat tua dan gelap, dan berbentuk asing. George benar. Itu bangkai kapalnya, yang  terangkat dari tempat peristirahatannya di dasar laut dan terbanting ke atas batu di  depan pantai.

“George! Kita sekarang bisa naik perahu ke kapal itu!” seru Julian. “Kita akan bisa  memeriksanya dengan seksama, dari haluan sampai buritan. Barangkali saja kita akan  menemukan peti-peti yang penuh berisi emas. Wah, George!”

Sebarkan artikel ini