Kegiatan Live in SMA Strada ST. Thomas sudah dilaksanakan. Tepatnya di hari Minggu, 9 November 2025, para Thomasian kelas XI melakukan kegiatan live in ke Desa Ngembesan Wonokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Keberangkatan dimulai dari sekolah SMA Strada St. Thomas Aquino pada pukul 19.00 WIB. Perjalanan menuju desa membutuhkan waktu 14 jam untuk tiba di lokasi Live In. Siswa-siswi berangkat menggunakan bus, sesuai dengan pembagiannya masing-masing. Para siswa-siswi sangat antusias dan menikmati perjalanan menuju ke lokasi.
Para thomasian tiba pada hari Senin, 10 November 2025, pukul 09.00 WIB di Desa Ngambesan Wonokerto. Kegiatan diawali dengan perkenalan kepada orang tua asuh masing-masing siswa – siswi dan kegiatan dilanjut dengan sarapan serta berdinamika bersama keluarga hingga pukul 16.00 WIB. Pembagian orang tua asuh diatur oleh pihak sekolah. Masing-masing keluarga ditempati sekitar 2-4 anak. Thomasian diajarkan untuk bisa menerima setiap kondisi dan situasi yang berbeda-beda dari setiap keluarga.
Setelah berdinamika dan berkenalan dengan keluarga asuh, para thomasian kelas XI melakukan kegiatan pengabdian masyarakat, yaitu kegiatan bersama anak-anak desa. Anak-anak diajak untuk bermain bersama dan bergembira bersama,. Kegiatan itu dapat meningkatkan keakraban atau memudahkan untuk beradaptasi antar anak dan warga desa dengan para thomasian. Selain itu, kegiatan ini juga dapat mengajarkan para thomasian melakukan pelayanan terhadap anak-anak di desa untuk saling belajar dan bekerja sama. Kegiatan tersebut berjalan dengan sempurna dan disambut hangat oleh anak-anak. Semua anak senang dan menerima kehadiran para thomasian dengan suka cita.

Pada pukul 18.00 WIB, thomasian Kembali ke rumah masing-masing untuk makan malam bersama keluarga asuh mereka dan dilanjutkan dengan aktivitas sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan. Setiap kelompok melakukan aktivitas yang berbeda-beda. Di bagian kelompok B, pada waktu itu melakukan aktivitas belajar bersama mengenai budaya disana, yaitu belajar musik tradisional Gamelan. Tentunya kesempatan ini adalah pelajaran yang sangat berharga dan pengalaman yang sangat berarti bagi para thomasian karena untuk pertama kalinya mereka mencoba memainkan alat musik tradisional dari Jawa, yang belum pernah mereka coba sebelumnya. Thomasian mengenal dan mencoba berlatih bermain gamelan. Para warga desa Ngambesam Wonokerto dengan baik hati dan sabar mengajarkan para thomasian cara memainkan alat musik gamelan dan tarian jathilan. Dengan senang dan antusias dari thomasian membuat para warga desa menjadi semangat untuk melatihnya dan juga bangga pada mereka. Kegiatan berlangsung hingga pukul 22.00 WIB dan semua thomasian kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat, dengan dibalur oleh rintik hujan di malam hari.

Hari kedua, pada tanggal 11 November 2025, kegiatan diawali dengan ibadah pagi bersama di Taman Doa Dhamparing Kawicaksana. Pada pukul 06.00 WIB para thomasian sudah berkumpul bersama di sana, dengan menggunakan pakaian yang rapi dan sopan. Ibadah Pagi dipimpin oleh Tim Omah Noto Plankton, thomasian disuruh untuk merasakan betapa asrinya alam, dilanjut dengan ibadat melalui meditasi. Setleah kegiatan selesai, para thomasian melaksanakan Jelajah Alam. Para tim pemandu dan thomasian serta guru – guru pendamping diminta untuk menelusuri sawah-sawah, mendaki, dan menyusuri sungai yang deras, bahkan beberapa thomasian ada yang mandi di curug. Kegiatan Jelajah Alam ini di tutup dengan makan bersama dengan lauk seadanya. Jelajah Alam mengajari thomasian betapa alam di Yogyakarta sangatlah indah, pepohonan masih rindang dan suara binatang yang merdu menambah kesegaran. Bukan hanya menikmati alam, tapi juga di ajarkan untuk menjaga atau melestarikan alam yang indah.

Pada pukul 16.00 WIB Thomasian melanjutkan kegiatan dengan melakukan pembibitan, yaitu menanam bibit di tempat keluarga masing-masing. Pembibitan tidak hanya satu jenis, namun banyak jenis bibit yang di tanam oleh para thomasian untuk mengenang masa-masa thomasian kelas XI di rumah masing-masing. Selain itu juga, agar keluarga disana mengingat bahwa thomasian pernah berada dan tinggal di rumah orang tua asuh. Semua thomasian menikmati kegiatan tersebut dan belajar banyak dari kegiatan itu. Keakraban antara siswa dan keluarga asuh juga semakin terlihat saat kegiatan itu berlangsung. Setelah kegiatan itu selsai, dilanjut dengan Sharing and Caring di rumah Pak RT 03, disana Tim Omah Noto Plankton berbagi cerita tentang terbentuknya tim Omah Noto Plankton. Tentunya thomasian juga diajak untuk ikut merefleksikan diri untuk pengalaman apa yang sudah di lewati sepanjang hari itu.
Berlanjut di hari yang ketiga, para guru (pendamping) dan thomasian ke kapel lagi untuk melakukan ibadat pagi dan di lanjut dengan dinamika keluarga. Dalam kesempatan ini thomasian diajak untuk melakukan kegiatan yang keluarga asuh lakukan setiap harinya, yaitu membantu untuk memetik hasil panen cabai, singkong, hingga salak, yang pohonnya berduri dan kegiatan lainnya. kegiatan disambung dengan kegiatan kerja bakti di lingkungan sekitar rumah thomasian tinggal, seperti menyapu halaman, mencabut rumpuh, memungut sampah, bahkan memilahnya juga. Dengan ini membuat thomasian mengerti betapa pentingnya merawat lingkungan di tempat kita tinggal dan menjaganya agar nyaman untuk di tempati.Pada malam harinya seluruh siswa-siswi dan Bapak/ Ibu guru pendamping belajar tarian Jahtilan, alunan musik yang dimainkan dengan keseruan di dalamnya, dimana setiap gerakan sesuai dengan irama. Dalam karya seni tari Jahtilan sendiri bermain dengan kuda lumping, menceritakan kisah ketangkasan prajurit berkuda. Biasanya orang yang bermain jahtilan akan kesurupan, tapi tidak untuk kali ini. Tarian ini biasanya digunakan atau ditampilkan pada saat acara tertentu oleh warga desa tersebut dan merupakan warisan budaya yang masih sering ditampilkan. Sampai akhirnya larut malam dan mereka semua kembali beristirahat ke rumah orang tua asuhnya masing-masing.

Hari keempat, hari terakhir berada di Desa Ngembesan Wonokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Pada pukul 07.30 WIB, thomasian berkumpul di kapel untuk melaksanakan perayaan Ekaristi Kudus untuk penutupan kegiatn live in. Misa berjalan dengan lancar dan dipimpin oleh Romo Benedictus Aditya Relliantoko. Dalam kotbah, Romo mengajak dua orang thomasian untuk melakukan sharing selama live in, yaitu Nathan Aryasatya dan Kairie Angeline, mereka mengatakan bahwa live in mengajarkan mereka Slow Living (Hidup Sederhana) dan tetap bersyukur dalam segala hal. Setelah selesai berkat penutup dari Romo. Kegiatan selanjutnya adalah sesi foto Bersama – sama.

Pada pukul 10.00 WIB sampai 12.00 WIB, Thomasian bersiap – siap untuk pulang, membereskan barang barang hingga berpamitan dengan keluarga masing-masing. Di waktu ini banyak air mata terjatuh, rasa sedih yang melanda para thomasian karena harus berpisah dengan orang tua asuh yang kami sudah menganggap sebagai orang tua sendiri. Tepat pada pukul 13.00 WIB kita berangkat menuju SMA Strada St. Thomas Aquino. Di tengah perjalanan, mereka singgah untuk membeli oleh-oleh dan setelah itu melanjutkan perjalanan lagi. Thomasian sampai di sekolah SMA Strada St. Thomas Aquino pukul 04.00 WIB.
Dari pelaksanaan kegiatan Live In ini Thomasian kelas XI belajar bahwa bagaimana susahnya hidup di desa dan sederhananya hidup di desa, makan seadanya, bahkan bagaimana orang-orang hidup di zaman dahulu tanpa gawai. Dari kegitan live in ini juga para thomasian juga belajar bagaimana menghargai setiap makanan yang diberi sama orang tua, bahkan menghargai alam yang begitu indah, membangun kesatuan dengan keluarga asing dan juga pertemanan yang bahkan belum dimulai semasa di sekolah. Terima kasih atas bimbingan semua orang tua asuh dan kepada pihak Omah Noto Plankton yang membantu Thomasian berkegiatan selama 4 hari, kasih kalian tiada bandingnya untuk kami.
Penulis: Marvel Alexander Putra / XIC / Jurusan IT
Editor: Denta Pinasthika
Recent Comments